Tawasul Dengan Abah


Sore itu nyaris tak layak lagi disebut sore; wajah lazuardi mulai menggelap, meski masih tersisa sedikit semburat keemasan diufuk barat. Kami yg hanya berempat dari sekelompok pasukan "bocah sawah" beranjak berlalu dari ladang khidmah; hendak kembali ke pondok, seperti sore-sore yg biasa kami lewati setiap hari. Langkah kami berempat belum lebih dari seratus jejak; gubuk komando masih terlihat jelas jika sedikit saja kami menengok kebelakang. Kami terus menambah jumlah langkah kami berharap segera menginjak jalanan yg berasapal; dan seperti biasanya menunaikan shalat maghrib di WR. Sakinah. Aha.. Kali ini ada yg berbeda, biasanya dalam sepanjang perjalanan kami selalu menundukan kepala, itu bukan berarti kami tengah mencerminkan sikap tawadhu', kiranya ada makna dan tujuan lain yg sama-sama telah kita sepakati; mencari puntung, begitulah tepatnya. Entah siapa yg mengawali ide kami saat ini, sepertinya kami berempat adalah satu jiwa dan perut. Pasalnya kurang tepat disebut tiba-tiba, namun beginilah yg terjadi. Ya, sebelum pulang dr tambak kami dan personil "cah sawah" yg telah membabat habis santapan sore lengkap dg 'tahu kelemnya', hanya saja dalam perjalanan yg belum melunasi seperempatnya saja, kami seperti sepakat ingin kembali memberi tugas pada gigi-gigi geraham dan perut agar mencerna sesuatu.
"Gorengan hangat" kata salah satu dari kami yg segera disepakati dengan kata "ya" serempak. Kali ini kami terus melangkah dengan saling mengekspresikan isi kepalanya yg mulai dihantui lezatnya gorengan hangat. Kini pesona sebuah gorengan bukan lagi jadi cita-cita melainkan sesuatu yg mulai menuntut air liur untuk mengalir. Melihat gelagat dan situasi yg saya dg pede berucap " tawasul dg abah, kalian amini ya" kataku dg mantap. "Oke" mereka kompak.
"Ya Allah, kulo sekonco pengen gorengan anget, kulo tawasul kalih asmane abah, al-faatikhah.."

"Duuuuuaaaaarrrrrr" geluduk membahana, sesaat sebelum hujan sedang mulai merinai. Spontan kami berlarian sembari tetap merapalkan surat fatihah yg belum selesai. Lari-lari setengah kencang itu ahirnya mereda, meski sebenarnya hujan masih sama sejak turunnya. Saat ini kami lebih tepatnya disebut jalan biasa bersama guyuran hujan yg juga masih sama saja.

Di depan sana, di pinggir jalan raya mangkang, sepsang mata kami memusatkan pandang pada sebuah gubuk, sembari kembali meningkatkan kecepatan derap langkah hingga ahirnya kami berempat berteduh dibawah atap-atapnya yg tidak lagi proporsional. Saya mengibas-ngibaskan ujung sarung yg basa, yg lain ada yg melepas sementara bajunya lalu memerasnya dan sebagian yg lain tak mempersoal pakaiannya yg kuyup. Hingga pada saat terdengar suara panggilan "Naaaang.." dari balik pintu mobil menyentuh gendang telinga kami mulai tersadar ada sebuah tangan menjulur dari kaca mobil dengan bungkusan plastik hitam.
"Kang.. Iki lho gorengan anget.." suara dari balik pintu mobil itu menyeru kembali. Saya yg merasa faham dg isyarat itu tanpa banyak fikir segera menyambar bungkusan tas kresek hitam tanpa peduli siapa sosok di dalam mobil itu, seraya berucap "matur suwun. Waaah.. Gorengan anget tenan Kang"..

Wallahu a'lam..

Cerita ini terjadi pada saya dan ketiga teman saya satu dari Brebes dan yg lainnya dari karawang.

#Alfadhluwalfadhilah
#AbahKHDimyatiRois

Oleh : Muhammad Nuril Anwar Al Losary
Rembang 04 Juni 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Mbah Sahal , Mbah Maimun , Mbah Dim berbeda Pendapat

Abah Dimyati Rois diajak Haji Mbah Hamid Pasuruan

Mbah Dim : Gusti Allah niku Unik