Cerita Kyai Sepuh tentang KH Dimyati Rois

Pada hari Jum'at (lupa bulan apa), kira-kira Tahun 1995, saya bersama Kak Miftah "kakak kandung" diajak oleh Bapak sowan ke Kyai Usman, Ulama Sepuh yang sangat terkenal di daerah Manggar Mas kabupaten Purwodadi.

Masyarakat Demak- Purwodadi dan sekitar, sering menyebut Yai ngosman wali atau mbah ngosman.

Maksud Bapak saat itu adalah, mau minta saran/wejangan dan do'a ke Yai ngosman, untuk  kami berdua, kalau kami berdua "saya dan kak Miftah" mau dipondokkan agar jadi santrinya Mbah Dim Kaliwungu, ngaji di pesantrennya Mbah Dim. 

Jujur saat itu, Bapak dan kami belum tahu nama Al fadlu, Djagalan, Kutoharjo...  tahunya ya hanya Mbah Dim kaliwungu.

Pagi kami berangkat, "lupa jam berapa" sampai depan ndalem "kediaman" nya yai Ngosman  sekitar jam 10 Siang, (perjalanan Demak ke daerah Grobogan Purwodadi cukup jauh, apalagi kami saat itu pakai sepeda ontel).

Biasanya, kalau hari Jum' at tamu yai ngosman sangat banyak. Karena banyaknya tamu, maka untuk sowan biasanya antri dulu,  namun waktu itu hanya kami bertiga yang nampaknya bertamu "sowan" ke yai Ngosman, karena ternyata yai Ngosman saat itu lagi sakit.

Dan mungkin karena beliau nya lagi sakit itulah, kayaknya hanya kami bertiga yang bertamu "sowan" di ndalem yai Ngosman tersebut, dan alhamdulillah kami diminta langsung untuk masuk ke dalam Kamar dimana Yai Ngosman terbaring lemah di atas sebuah Balai kecil berselambu putih.

Sambil baring, yai ngosman menyapa kami dengan suara lirih, Kang Kendi "tempat air minum terbuat dari tanah liat" itu masih agung nggak, (agung disini maksudnya; penuh air), lalu Bapak menganggkat kendi yang terletak dimeja kecil disamping Balai dimana yai Ngosman berbaring, masih penuh mbah airnya, jawab Bapak kemudian.

Monggo kang di minum, kata Mbah Ngosman ... sejurus kemudian kak miftah meminum air kendi, lalu saya, kemudian Bapak. Setelah kami bertiga merasakan sejuknya air kendi ditenggorokan kami, tiba-tiba mbah ngosman dawuh "berkata-kata". Karena suara mbah Ngosman lirih dan agar kami mendengar lebih jelas, Bapak ngasih isyarat ke kami berdua, untuk lebih mendekat ke mbah Ngosman.

Dawuh mbah Ngosman; " Aku mau bar ditamoni Yai Alim2, salah sijine mbah Dim Kaliwungu, nembe podo pamitan mulih, terus sampean podo mene kang,... lah wong sampean ki durung kaji kok podo nganggo ketu kaji kang-kang, (aku tadi baru saja kedatangan tamu kyai Alim2, salah satunya mbah Dim Kaliwungu, baru saja pamitan pulang, terus kalian bertiga datang kesini).

Saat itu, saya dan kak miftah memang pakai peci haji "peci putih" padahal kami belum Haji....  kami bertiga diam saja, khusu' mendengar dan berharap ada wejangan2 mbah ngosman lagi dan lagi ke kami.

Karena lama, dan nampaknya wejangan yang kami tunggu tak kunjung tiba. Akhirnya bapak matur ke yai Ngosman akan maksud dan tujuan sowan  Bapak kali ini, atau lebih tepatnya menyowankan kami berdua, kalau kami berdua akan di pondokkan di pesantrennya Mbah Dim Kaliwungu.

Dawuh mbah Ngosman; Yo kang, sae niku, mbah Dim iku KYAI ANTIK, barang antik iku susah gole'ane, jenenge antik yo kudu dijogo sing ati2, sing apik, ( Iya kang, baik itu, Mbah Dim itu Kyai Antik, Barang antik itu susah mencarinya, namanya barang antik ya harus dijaga dengan baik dan hati hati).

Lalu mbah Ngosman berdoa, dan kami bertiga mengamini do'a nya, meski saya tidak tahu di do'akan bagaimana, pastinya saat itu... kami memahami akan wejangan Mbah Ngosman, sangat tepat bagi kami berdua kalau dipondokkan pada Mbah Dim "KYAI ANTIK" Kaliwungu.

Singat cerita... jadilah kami mondok di Pesantren Al Fadlu Djagalan Kutoharjo, Kaliwungu, Kendal-Jawa Tengah dari tahun 1995- 2001. Bahkan kami berdua ikut jadi Santri Ndalem "Santri Sawah" yang ikut-ikutan ngabdi Ndalem, ngalab berkahnya "KYAI ANTIK Mbah Dimyati Rois Kaliwungu yang kemudian kami selalu menyebut nya ABAH DIM.

Batam, 6 Juni 2020
M. KAMALUDDIN BIN DIMYATI
Wakil Ketua DPRD Kepri 
Axact

Alfadllu.com

Media silaturahim yang menjernihkan dan mencerdaskan, dengan informasi yang menginspirasi.

Post A Comment:

0 comments: