Refleksi Santri Yang Tidak Sempurna

Oleh : M. Kamaluddin

5 tahun... aku Mondok di pesantren Al fadlu Kaliwungu, yang diasuh oleh KH. Dimyati Rois. Kami para santri, menyebut beliau dengan sebutan Abah.

 “Abah Dim”, merupakan sebutan paling familyer bagi kami yang tidak sekedar ingin jadi santrinya saja, tapi sekaligus kami ingin diakui sebagai anaknya, (anak idiologisnya).

 5 tahun ... adalah ukuran waktu yang sangat pendek dan sangat singkat, dibanding dengan umumnya tradisi santri mondok di pesantren al Fadlu. Kebanyakan santri mondok 10 hingga 20 tahun -bahkan ada yang lebih-,  demikian yang aku lihat di daftar buku induk pesantren.

Sudah semestinya, semakin lama santri di pesantren, maka semakin banyak waktu santri mengaji, dan semakin banyak pula ilmu yang santri dapatkan. meskipun lamanya waktu tidak ada batasan bagi sebuah tradisi belajar di pesantren, karena tidak akan pernah purna belajar ilmu agama di pesantren.

Ada sebuah tradisi yang berlaku di pesantren Al Fadlu, bahwa;  santri lama (baca:senior) akan jadi pengurus pondok, selain ia juga harus ikut membantu mengajar para santri junior. Dan sesuai dengan tradisi pesantren, sebelum mengajar, para santri tersebut,  terlebih dahulu-secara dejure- mendapatkan semacam lisenci dari Abah sang  pengasuh-.

Lisenci itu berupa sanad (mata rantai) proses belajar-mengajar ilmu agama dari guru satu ke guru yang lain. Santri al Fadlu  yang akan menjadi ustadz/guru harus mengantongi sanad itu dari Abah, terus kegurunya Abah, dari gurunya Abah,kepada guru-gurunya guru Abah hingga nyambung sampai ke Rasulillah SAW,

Dan soal mata rantai sanad keilmuan tersebut,  bagi kami, Abah adalah  jaminan mutu, 100%.
Foto Abah Dim di Cirebon 2001


Selain sebagai pengasuh pesantren, atau lebih dikenal sebagai sang Kyai, ternyata masih banyak sisi lain kehiduan Abah yang kurang begitu ter-expos oleh khalayak ramai.

Memang pada faktanya Abah bukan tipikal orang yang suka pamer, apalagi narsis, atau sampai kowar-kowar dimedia, sebagaimana yang  sering kita jumpai wajah para elit politisi negeri ini, yang hampir disetiap saat menghiasi media masa, gaduh, sampai- sampai masyarakat merasa jengah menyaksikan polah tingkah dan statement- statement mereka yang jelasnya tidak bermutu.

Padahal kalau dicermati lebih mendalam,  Abah adalah salah satu kyai yang sangat mewarnai dan memainkan peran apiknya di kancah perpolitikan negeri ini.

Sepengetahuan penulis... ya, sekali lagi, ini hanya sebatas yang penulis tahu; Abah secara resmi telah tercatat sebagai anggota DPR/MPR RI selama dua periode dari unsure utusan golongan, artinya tidaklah sebuah hal yang mudah, bias menjadi anggota senator terhormat, ikut serta mewarnai kebijakan para penguasa negeri ini.

Saat itu orde baru begitu berkuasa, disentralisasi politik penguasa begitu terasa, strategi pengkondisian satu baju ambisi untuk sebuah kekuasan, menjadikan suara kebenaran akan kalah dengan suara mayoritas. Anda tentu tahu sebuah idiom  “kedhaliman yang tersusun dan terstruktur secara rapi akan mengalahkan kebenaran dan kebaikan,para kaum minoritas”.

Sedikit gambaran kondisi saat itu... pilitisi yang berhaluan hijau, berkarakter santri Kyai, banyak dikebiri kiprahnya.

Ada dua hal yang penulis anggap bagian terpenting dari sisi lain Abah, pertama; paska pelantikan, disuatu hari, ada wartawan iseng, bertanya kepada Abah, tentang ijazah formal yang Abah miliki syarat sebagai anggota DPR/MPR, dengan guyon Abah menjawab; “saya ini tukang mengeluarkan Ijasah dan Ijazah sekaligus, kok ditanya tentang perihal Ijasah”.

Kedua, bagaimana kita membayangkan bahwa seorang Abah yang selalu berpenampilan sederhana, tidak terbiasa dengan protokoler,  menjadi anggota DPR/MPR yang harus berpakaian serba resmi, berbaju jas, bila perlu pakai dasi, tidak boleh pakai sarung, apalagi hanya berkaos oblong, bersepatu licin, duduk di kursi empuk secara jumawa, dan duduk berdampingan dengan para politisi-politisi yang begitu parlente.... betapa sebuah siksaan yang memilukan, Wallahu’a’lam.

Majelis Permusyawaratan Rakyat adalah penjelman dari seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, maka namanya majelis, bukan dewan perwakilan, hal itulah yang  berpengaruh pada tugas dan fungsinya sebagai personifikasi dari rakyat untuk memilih dan memberi mandat kepada seorang presiden.

Saat itu... ada dua kejadian yang maha penting di negeri ini, Pertama: bersamaan dengan gelombang aksi anarkis masyarakat yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi, Majelis Permusyawaratan Rakyat menggulirkan reformasi yang berujung pada mundurnya sang Presiden RI, Soeharto.

Kedua,  MPR menggunakan haknya untuk mengamandemen undang-undang dasar, kitab sucinya Negara Republik Indonesia. Dua gerakan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik, untuk Indonesia yang berdaulat, dan untuk Indonesia yang demokratis.

Di- era Reformasi bergulir,  Abah juga terlibat aktif bersama poros Rembang untuk membidani lahirnya partai politik sebagai konsekwensi logis lahirnya multi partai di Indonesia. kemudian hari, partai itu bernama Partai Kebangkitan Bangsa.

Keterlibatan Abah meski tidak terekam oleh kamera wartawan dan tidak terexpos oleh halaman media, namun kita bisa melihat dari tokoh-tokoh sentral pembentukan PKB, selalu datang silih berganti sowan ke-Ndalem Abah, bahkan konon ceritanya tokoh sekaliber Matori Abdul Jalil, Alwi Sihab, KH. Kholil Bisri Rembang, bisa semalam suntuk berdiskusi di gubuknya Abah, di tengah Sawah/tambak, di kampong Sabetan Lor, tepatnya didekat pesisir pantai Kaliwungu.

Bahkan Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, sang Deklarator sekaligus ketua umum Dewan Syuro PKB, bermaksud sowan ke-Ndalem Abah di Djagalan Kaliwungu, setalah Gus Dur rampung menyampaikan pidato politik kebangsaan saat kampanye perdana PKB dialun-alun Kabupaten Kendal kala itu.

Bahkan konon ceritanya, nama Partai Kebangkitan Bangsa adalah sebua nama yang diusulkan Abah kepada poros Rembang, dengan ketua umum PKB nantinya adalah Matori Abdul Jalil, sebagai prasyarat Abah mau bergabung membidani kelahiran partai dari rahim NahdlatulUlama. 

Artinya sebegitu berperannya Abah dalam kiprah politik praktis menentukan lahir dan berjayanya PKB. Memang pak Matori adalah satu diantara santrinya Abah yang pernah berjaya, saat menjadi ketua umum, PKB menjadi salah satu partai politik yang baru lahir, selain menyedot perhatian juga begitu diminati oleh masyarakat, hingga mampu bertengger sebagai partai besar, bersaing ketat dengan partai lama sekelas PDIP dan Golkar.

Berbagai peran penting Abah –yang tentunya tidak pernah terexpos-,  adalah,  Abah menjadi mentor politiknya Pak Matori, baik saat pak Matori menjadi Ketua Umum DPP PKB, maupun saat Pak Matori menjadi menteri diera Presiden Gus Dur dan Megawati.

Politik akomodatif dan fleksibelnya Abah menjadikan Pak Matori begitu piawai memainkan peran stategis dibelantika perpolitikan di era reformasi, meskipun tetap banyak resiko yang harus diterima, semisal,  Pak Matori dan Abah harus berada dipersimpangan jalan, saat Gus Dur dimakzulkan dari kursi kepresidenan oleh MPR nya Amin Rais cs, dengan kelicikan poros tengah.

Matori Abdul Jalil,  saat itu...  menjadi seteru Gus Dur “di panggung politik”, karena pak Matori lebih memilih berada didalam koalisi kabinet Gotong Royong - nya Megawati, dengan alasan politik akomodatif, yang akan bisa mewarnai dari dalam, karena harus menjadi orang dalam, demikian yang penulis dengar. Konsekwensi politik yang harus diterima oleh Pak Matori adalah  jabatannya sebagai Ketua Umum DPP PKB tidak mendapatkan pengakuan dari arus mayoritas di Partai yang berbasis warga Nahdliyyin itu, khususnya dari Ketua Umum Dewan Syuro, Gus Dur, sang mantan Presiden. Yang pada akhirnya pak Matori dianggap anak yang tidak berbakti.

Itulah politik... sebuah realitas yang akan memberi kehidupan dan kematiannya berulang kali.

Tidak ber-PKB, tidak menyurutkan minat Pak Matori menggeluti dunia politik, yang kayaknya sudah menjadi garis hidupnya,  melalui kepiawaiannya berpolitik, dengan sentuhan tangan dingin Abah sang mentor, Pak Matori mendirikan Partai Kejayaan Demokrasi, PKD, dengan Ketua Umumya Pak Matori sendiri, sedang Ketua Umum Dewan Syuro adalah Abah, KH. Dimyati Rois. Meskipun pada akhirnya PKD lahir sebagai bayi yang tidak dikehendaki oleh Menkumham, yang akhirnya PKD tidak punya Akta Kelahiran.

Pada medio akhir 2008, konsistensi Abah di percaturan politik Indonesia, kembali menampakkan kepiawaiannya, Cak Imin sang Ketua umum DPP PKB yang saat itu berseteru dengan Gus Dur (Ketua Umum Dewan Syuro), segera merapat dan meminta Abah untuk ikut turun gunung menyelamatkan PKB.

Hingga secara defakto jadilah Abah sebagai mentor politiknya Cak Imin cs. Ikut Perang baratayhuda antara PKB Gus Dur versus PKB Cak Imin yang pada akhirnya melahirkan dua Muktamar; baik Muktamar Parung Bogor versi Gus Dur, (penulis termasuk peserta, karena saat itu penulis adalah sekretaris DPW PKB Prov. Kepri), maupun, Muktamar Ancol Versi cak Imin.

Keputusan Menkumham mengesahkan bahwa Muktamar PKB Ancol versi Cak Imin-lah yang sah. Cak Imin cs bersama PKB, dengan politik akomodatif dan fleksibelnya mampu meraih suksesinya berturut-turut, sebuah strategi politik yang tidak  mengambil jarak dengan para penguasa, menata diri secara perlahan dan bertahap dengan kesungguhan dan keberanian menentukan sebuah pilhan, baik di era presiden SBY maupun di era presiden Jokowi, sekarang. 

Tentunya masih banyak hal yang telah Abah berikan kepada para generasi penerusnya, khususnya kepada para santri-santrinya, untuk selanjutnya, para santrinya sebisa mungkin berani melangkah dan terus mempelajari  sisi lain Abah sang mentor politik yang mumpuni dan berkarakter.

Bagi santri-santrinya Abah,  kita tidak harus meraih sukses politik seperti Pak Matori cs, atau seperti Cak Imin cs. Yang terpenting adalah; kita patut bersyukur atas karunia Tuhan yang telah mempertemukan kita dengan sosok seorang Abah;  sang pengasuh, sang kyai, sang maha guru dan sang mentor politik  bagi siapa saja yang menjadikan politik itu semata-mata hanya sebagai alat menuju tujuan, bukan menjadi tujuan itu sendiri.

Bagi siapa saja yang menjadikan politik hanya untuk menuju tatanan Indonesia Raya yang merdeka dan demokratis, menuju Indonesia sebagai negeri yang melandaskan Islam rahmatan lil alamin dengan nafas Aswaja An-Nahdliyyah sebagai pondasi dasarnya.

Beragama dalam keberagaman, berpolitik, menjadi pelaku ekonomi, menjadi agen budaya, dan menjadi apa saja, sebisa mungkin semua di corakkan ala tradisi santri, dalam rangka menjadikan Indoneisa, bahkan dunia menjadi pesantren besar, dengan tetap menunjukkan kesederhanaan, ketawadu’an  dan keikhlasan, dimanapun dan kapanpun kamu berada, dan kamu  harus berani, demikian wejangan Abah kepada penulis saat edisi sowan Abah, Mei 2013. 

Memang sejarah akan berjalan dalam dialektika antara tantangan dan respons (challenge and respons). Dinamika sejarah akan tercipta ketika manusia merespons tantangan-tantangan hidup yang mereka hadapi, tantangan adalah cara Allah menstimulasi proses pembelajaran manusia.

Dalam perspektif itu, jarak antara idealisme dan kapasitas dapat dijembatani dengan tradisi pembelajaran. Pembelajaran selalu merupakan rahasia dibalik semua fenomena pertumbuhan jangka panjang dalam sejarah manusia di dunia ini. Harus diakui, kendala pembelajaran adalah masalah waktu. Dan waktu berhubungan dengan sikap jiwa; antara kesabaran dan keberanian.

“pencapaian besar selalu membutuhkan kapasitas besar, dan pertumbuhan kapasitas besar selalu membutuhkan waktu yang panjang, itu sebabnya proses pembelajaran selalu membutuhkan waktu yang panjang, dan karenanya, dibutuhkan kesabaran yang juga panjang. Walaupun kita bisa memicu akselerasi pembelajaran (learning speed) pada skala individu, tetapi situasi itu tidak selalu bisa terjadi dalam skala komunitas.”

Batam , Kepri 2014 (  1 Muharram 1437 H )
Axact

Alfadllu.com

Media silaturahim yang menjernihkan dan mencerdaskan, dengan informasi yang menginspirasi.

Post A Comment:

0 comments: