Kiai Dimyati Rois dan Pertanian



Kalau bertani itu, kata Kiai Dimyati Rois, (terasa) tenang. Hanya saja tak selalu pegang uang. Beda dengan berdagang yang selalu pegang uang.

"Saya bertani, juga berdagang" kata beliau suatu pagi setelah tasyakuran kitab al-Mahally.

Kiai Dimyati Rois, yang lebih akrab disapa dengan Abah Dim, adalah pekerja keras. Tak hanya dalam hal mengaji, tapi juga bertani. Menurut cerita Kiai Abdul Manab Syair, Abah Dim itu sangat bersemangat dalam membacakan kitab kuning. Pernah, kata Kiai Manab, ngaji kitab sampai lebaran baru khatam.

Dalam hal pertanian, baik sawah atau tambak, juga demikian. Beliau juga totalitas. Menurut beberapa cerita santri senior, Abah Dim juga ikut terjun ke dalam tambak laiknya seorang jenderal.

Tak hanya tentang pertanian yang beliau ajarkan di sawah. Saya pernah ngobrol dengan salah satu alumni yang dulu ikut rewang di sawah. Katanya, ia pernah mendapat pelajaran yang sampai sekarang masih membekas.

Ia bercerita, dulu pernah diajari oleh Abah Dim metode mencangkul. Ada tiga metode yang dicontohkan Abah Dim: mencangkul dengan cara miring, tegak dan membungkuk. Santri itu disuruh beliau mencoba apa yang telah dicontohkan. Namun sampai beberapa kali, menurut penilaian beliau, santri tersebut belum bisa melakukannya secara tepat. Lalu beliau mengatakan:

"Metode mencangkul yang bermacam-macam itu sesuaikanlah dengan keadaan tanah. Apakah tanah itu keras atau lunak, itu beda cara mencangkulnya. Tanah itu sama dengan manusia, ada yang keras atau kaku, ada yang lunak, ada yang labil. Cara mengajak atau mengarahkan mereka juga beda, seperti mencangkul tadi."

Selain bertani, Abah Dim juga seorang kiai yang aktif berjuang di politik. Dan tak jarang beliau menemui tamu politikus di sawah dan tambak.

Gus Sulton Syair pernah bercerita, saat dulu ia masih menjabat anggota DPR PKB Batang, sering sowan Abah Dim di tambak. Di sela-sela ngobrol politik, Abah Dim mengajak membakar ikan.

Bagaimana dengan Anda? Juga suka bertani?




Zaim Ahya, Plumbon 10 Mei 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Mbah Sahal , Mbah Maimun , Mbah Dim berbeda Pendapat

Abah Dimyati Rois diajak Haji Mbah Hamid Pasuruan

Mbah Dim : Gusti Allah niku Unik