Bilik Adalah istilah kamar-kamar kecil, yang lebih tepatnya Gotakan Santri, tempat tinggal kami, selama kami nyantri. Selayaknya kamar kontrakan yang disewakan. Sebuah kamar kecil yang hanya berukuran 3x4 meteran, sangat kecil bagi ukuran 20 sampai 25an santri penghuni, "Simple dan Berjubel".

Dikamar Simple dan berjubel itu, kami para santri  diajarkan untuk mempraktikkan  gaya hidup yang sederhana dan bersahaja !!! "Sekeping gaya hidup  santri yang tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi". Selain sebagai identitas diri, tentunya.

Kamar kecil layaknya Kamar Kos-kosan yang lain, untuk tempat istirahat, tempat belajar (mutholaah),  tempat bersendau gurau, menyimpan barang-barang berharga kami, seperti; pakaian, kitab, buku, peralatan mandi, handuk, sajadah, sorban dan sebagainya. semua kami tata rapi di rak -rak kecil kami, sebuah almari bersama persis kayak kotak ajaibnya si Doremon, semua-semua masuk dan muat, ... aneh bin ajaib.

Kamar kecil itu juga sebagai tempat beramah tamah kalau orang tua kami---wali santri--- datang menjenguk, lengkap dengan "buah tangan" oleh -oleh, berupa jajanan yang andai sudah di gelar ditengah-tengah kamar, perberapa detik, langsung kita serbu... rebutan, dan kadang tumpang tindih, dan kadang kemasan jajanan jadi berantakan.

Dari tradisi rebutan yang sudah dianggap wajar itu, kami seakan dengan penuh semangat mengumpulkan jajanan terbanyak, kalau sudah dapat langsung begitu kita dekap, tapi setelah edisi rebutan selesai, jajanan yang kita dapatkan dari rebutan, kita  bagi kembali ke kawan-kawan dan kita saling bertukeran jajan. Pokoknya asyik dech, swuer.

Di kamar kecil itu kami belajar arti sebuah kebersamaan dan keberagaman, dengan sistem percampuran santri sebagai penghuni,  berbeda asal usul dan berbeda daerah, meski yang paling dominan berasal dari daerah Jawa; Timur, Tengah dan Barat, ada juga yang berasal dari luar jawa, pokoknya bhenika tunggal ika lah.

Di kamar kecil itu kami belajar,  mempraktekkan dan mentaati kesepakatan yang kami buat bersama, di setiap tahunnya kami duduk bersama, merapat plenokan kepengurusan kamar, serta tata tertib dan beberapa peraturan, standart hidup bentuk menggapai keamanan dan kenyamanan hidup bersama, meski tidak terlalu ketat tapi mengikat.

Di kamar kecil itu, kami selalu melakukan diskusi dan Kajian bersama tentang banyak disiplin ilmu dan keilmuan,  termasuk tentang ilmu financial psychology " hedonic treadmill.

Saat kamar/rumah kita kecil, maka semua juga muat, dan saat kamar/rumah kita tambah besar, semua juga muat, tapi kadang malah terasa kurang dan kayaknya malah tambah menyempit. Saat gajimu 5 juta , semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan , eh... semua habis juga. Kenapa begitu ?

Karena harapan / ekspektasi dan gaya hidupmu pasti ikut naik , sejalan dengan kenaikan penghasilanmu. Dengan kata lain , nafsumu untuk membeli materi / barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income-mu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill : Seperti berjalan di atas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju !!!

Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan, kawan !!!

Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill. Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan , meski income makin tinggi dan bertambah.

Untuk itu semua, kami kaum santri selalu terjaga dari jeratan gaya hedonic dan lebih memilih hidup sederhana dan bersahaja,  kami akan dan terus selalu belajar bersyukur, sehingga kami selalu merasa kaya dan bahagia, Kekayaan itu bukanlah lantaran banyak harta benda, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan dan ketentraman jiwa yang selalu merasa cukup".

Bagi kami, Kebahagiaan hidup itu  cukup sederhana, misal; kami masih dikasih kesempatan bisa menikmati secangkir kopi panas,  bersama dan ramai-ramai, di Bilik Pesantren kami yang simple dan berjubel... kita sruput dengan penuh penghayatan mencapai kesempurnaan hingga ke ampas-ampasnya.

Dan ampas kopi pahit kami itu, namanya adalah "cete" yang selalu kami perebutkan, untuk mengolesi Rokok Sukun Kretek yang menampah kenikmatan tiada tara, serasa... kami adalah laki-laki sempurna, menjalani hidup tanpa basa-basi.

*** edisi mengenang... "rokok sukun kretek" yang begitu istimewa, baik rasa dan aromanya... begitu khas... yang latu dan bara apinya sangat ganas, kalau mletik bisa menembus sarung kami tanpa kompromi, bolong dimana-mana.

When enough is enough.

Kamal Dimyati Pimpinan DPRD Kepri 
Axact

Alfadllu.com

Media silaturahim yang menjernihkan dan mencerdaskan, dengan informasi yang menginspirasi.

Post A Comment:

0 comments: