ENAKNYA SHOLAT TARAWIH 8 REKAAT APA 20 REKAAT YA???

ENAKNYA SHOLAT TARAWIH 8 REKAAT APA 20 REKAAT YA???
Oleh KH M Hanif Muslih - Ponpes Futuhiyah Mranggen Demak
(Bagian Pertama)
Sebentar lagi bulan Ramadhan yang penuh maghfirah dan berkah Allah Azza wa Jalla, semoga Corona Sirna, sehingga dapat ibadah puasa, sholat Tarawih dan yang lainnya dengan sempurna, Amin
Mudah2an masjid kita sudah aman untuk meramaikan syiar islam melalui sholat Tarawih dan tilawah Al-Qur’an dengan tenang dan nyaman, tapi kita mau sholat Tarawaih berapa rekaat ya?, mari kita simak pendapat para Ulama berikut ini :

Jumlah rakaat shalat Tarawih dan witir sebagai rangkaiannya itu memang tidak hanya 11 rakaat atau 23 rakaat  saja  sebagaimana  yang  dikerjakan oleh mayoritas muslim Islam Indonesia, akan tetapi banyak sekali  macam dan ragamnya.
Ada beberapa riwayat yang menerangkan tentang banyaknya jumlah rakaat shalat Tarawih  yang dapat dikemukakan disini adalah sebagai berikut :
1- Tarawih 8 rakaat, dan Witir 3 rakaat = 11 rakaat ,  berdasarkan  riwayat  Imam Malik dari Muhammad ibn Yusuf ibn Yazid :
" أَمَرَ عُمَرُ بْنُ اَلْخَطَّابِ أُبَىَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيْمًا اَلدَّاْرِىْ أَنْ يَقُوْمَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً  قَاْلَ : وَقَدْ كَاْنَ َاْلـقَارِئُ  يَقْرَأُ بِالْمِئِيْنَ حَتَّى كُنَّا نَـعـْتــَمـِــدُ عَلَى اْلـعِصــــِيِّ مِنْ طـــُوْلِ اْلـقِيـَامِ وَمَاكُـنَّا نَـنـْصَرِفُ  إِلاَّ فِى بُزُوْغِ اْلــَفــَجــــــْرِ" [شرح الزرقانى : 1/239]
  " Khalifah Umar ibn Khattab memerintahkan Ubay ibn Ka'ab dan Tamim Al-Dary agar shalat Tarawih berjamaah  dengan Orang-orang (Sahabat dan Tabi'ien) dengan 11 rakaat, Rowi berkata : Imam pada saat itu membaca  ratusan Ayat Al-Qur'an , sehingga kita bersandar kepada tongkat karena panjangnya berdiri, dan kita tidak akan selesai  (shalat), kecuali  setelah  terbitnya fajar  "
Riwayat lain jumlah yang sama  (11 rakaat) sebuah riwayat dari Muhamad ibn Nashr, dan riwayat Said ibn Manshur  dari riwayat  lain, hanya saja ia menambahkan :
" وَكَانــُوْا يَقْرَأُوْنَ بِالْمِائِتَيْنِ و يَقُوْمُوْنَ عَلَى اْلـعِـصِيِّ  مِنْ طُوْلِ اَلْقِيَامِ " [فتح البارى :4/204]
" Dan  mereka membaca Al-Qur'an dengan 200 Ayat dan berdiri  dengan bersandar tongkat , karena panjangnya berdiri  "
2- Tarawih : 12 rakaat , witir tidak disebutkan, riwayat Imam Malik dari Dawud  ibn Hushein, bahwa ia mendengar dari Abd. Rahman ibn Hurmuz Al-A'raj berkata :
" مَا أَدْرَكْتُ اَلنَّاسَ إِلاَّ وَهُمْ يَلْعَنُوْنَ َاْلَكَفَرَةَ فِى رَمَضَانَ ، قَالَ : وَكَانَ اَلْقَارِئُ يَقْرَأُ سُوْرَةَ اَلبَقَرَةَ فِىْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ فَإِذَا قَامَ بِهَا فِىْ إِثْنَتَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً رَأَىْ اَلنَّاسُ أَنَّهُ قَدْ خـَفــَّفَ  " [شرح الزرقانى:1/240]
 " Aku tidak pernah menjumpai Orang-orang (Sahabat dan Tabi'ien) kecuali mereka melaknati (dalam do'anya) orang-orang kafur dalam bulan Ramadhan, Rowi berkata : Dan Imam ( ketika itu) membaca surah Al-Baqarah dalam 8 rakaat, Dan jika Imam dengan surah Al-Baqarah ( tersebut, membaca ) dalam 12 rakaat, maka  Orang-orang   melihat  kalau  Imam telah  meringankan  ( shalatnya ) ".
3- Tarawih : 10 rakaat, witir : 3 rakaat  = 13 rakaat,  riwayat  Muhammad ibn Nashr Al-Marwazy  dan Muhammad ibn Ishaq dari Muhammad ibn Yusuf   dari  eyangnya  Al-Saib ibn Yazid :
" كُــنــَّا نـــُصَلِّى زَمَنَ عُمَرَ فِى رَمَضَانَ ثَلاَثَ عَشْرَةَ  " { فتح البارى : 4/205 }
" Kita shalat Tarawih  pada masa Umar ibn Khattab  ra.  dalam  bulan Ramadhan  dengan  13  rakaat "  .
 4- Tarawih : 20 rakaat, witir tidak disebutkan, riwayat Imam Malik dari Yazid  ibn Khudzaifah dan Al-Saib ibn Yazid .
5- Tarawih : 20 rakaat, witir : 1 rakaat  =  21 rakaat, riwayat dari Abd. Razzaq (sanad lain) dari  Muhammad ibn Yusuf .
6- Tarawih : 20 rakaat, witir : 3 rakaat = 23 rakaat,  riwayat dari Imam Malik dari yazid  ibn Ruman  :
" كَانَ اَلنَّاسُ يَـقُــوْمُوْنَ فِىْ زَمَانِ عُمــَرَ بْنِ اَلْخَطَّابِ  فِى رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ رَكْعَةً"  [شرح الزرقانى : 1/239]
" Orang-orang ( Sahabat dan Tabi'ien ) menjalankan shalat pada masa khlaifah Umar ibn Khattab ra. di  bulan  Ramadhan  dengan  23  (  dua puluh tiga ) rakaat " .
Dan juga riwayat  dari Muhammad ibn Nashr dari  Imam  Atho' , ia  berkata ;
" أَدْرَكْــتُـهُمْ فِى رَمَضَانَ يُـصَلـــُّوْنَ عِشْرِيْنَ رَكـــْعَةً وَثَلاَثَ رَكَعَاتِ الْوِتْرِ " [فتح البارى : 4/204]
 " Aku  menjumpai  mereka (para Sahabat dan Tabi'ien), mereka di bulan Ramadhan mengerjakan  shalat  Tarawih  20  rakaat  dan shalat  witir  3  rakaat "
7- Tarawih : 34 rakaat, witir : 1 rakaat = 35 rakaat, riwayat dari Imam Zararah ibn Aufa :
" أَنـــَّهُ كَاْنَ يـُصَلِّىْ بِهِمْ بِاْلـبـَصْرَةِ أَرْبَعًا وَ ثَلاَ ثِيْنَ وَ يُــوْتــِرُ "  {  فتح البارى : 3/205 }
" Sesungguhnya ia shalat Tarawih dengan mereka di kota Bashrah dengan 34 rakaat dan 1 witir "
8-  Tarawih : 36 rakaat, witir : 3 rakaat = 39 rakaat, berdasarkan :
a. Rriwayat dari Muhammad ibn Nashr dari riwayat imam Dawud ibn Qois, ia berkata :
" أَدْرَكْتُ اَلنَّاسَ فِىْ إِمَارَةِ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ وَ عُمَـرَ بْنِ عَبْدِ الـعــَزِيـْزِ ــ يَعْنِىْ بِالْمَدِيْنَةِ  ــ  يَقــُوْمُوْنَ بِسِتٍّ  وَثَلاَ ثــِيْنَ رَكْعَةً وَيُوْتِرُوْنَ بِثَــــلاَثٍ "   { فتح البارى : 4/205 }
" Aku menjumpai Orang-orang pada masa pemerintahan  Aban  ibn Utsman dan Umar ibn Abd. Aziz di Madinah Al-Munawwarah, mereka mengerjakan shalat Tarawih dengan 36 rakaat dan witir 3 rakaat " .
 b.  Riwayat dari Imam Al-Za'faran dari Imam As-Syafi'ie :
" رَأَيْتُ اَلنَّاسَ يَقُوْمُوْنَ بِالْمَدِيْنَةِ بِتِسْعٍ وَثَلاَ ثِيْنَ وَ بِمَكَّةَ بَثَلاَثٍ وَعِشـــــْرِيــْنَ " { فتح البارى : 4/205 }
"  Saya melihat Orang-orang  di Madinah  mengerjakan shalat   Tarawih 39 rakaat  dan  di Makkah dengan 23 Rakaat "
  c.  Riwayat dari Ibn Wahab dari Umry dari Nafi', ia berkata :
" لَمْ أَدْرِكِ النــَّاسَ إِلاَّ وَهُمْ يُصَلّـــُوْنَ تِسْعًــا وَثَلاَ ثـــِيْنَ ، يُوْتِــرُونَ مِنْهَا بِثَــــلاَثٍ "  { فتح البارى: 4/205 }
" Aku  tidak  pernah  menjumpai  Orang-orang,  kecuali  mereka mengerjakan shalat tarawih dengan 39 rakaat, dan 3 diantaranya  shalat  witir "
9- Tarawih : 40 rakaat, witir 1 rakaat = 41 rakaat, riwayat Imam Al-Turmudzi :
" أَكْــثـــَرُ مَا قِيْلَ فِيْهِ أَنــَّهـَا تُـصَلِّىْ إِحَدَىْ وَأَرْبَعِيْنَ رَكْعَةً بِالْوِتــْرِ "
 " Yang  paling sering  dikatakan ; bahwasannya  shalat  Tarawih  itu   dikerjakan  dengan  41 rakaat dengan witir "
10- Tarawih : 40 rakaat, witir : 7 rakaat = 47 rakaat ,  riwayat  Imam Ibn Abdul Barr dari Al-Aswad ibn Yazid.
11-  Tarawih :  46 rakaat, witir :3 rakaat  = 49 rakaat,  riwayat Imam Malik rh.
Demikianlah beberapa riwayat yang menggambarkan begitu banyaknya ragam dan macam jumlah rakaat shalat Tarawih dan witir yang dikerjakan oleh  para Sahabat, Tabi'ien dan Tabi'it Tabi'ien, yang dapat penulis himpun dari beberapa kitab.
Dan bahwa semua Ulama sepakat, sependapat, tidak ada seorangpun dari mereka yang  mengingkari  dan  tidak  menyetujui dari amalan diatas, artinya semua jenis, macam dan ragam semua itu dilakukan oleh pendahulu kita, rahimahumulloh rohmatan wasiah.
Lantas seperti apa alasan mereka, berpedoman? ......


ENAKNYA SHOLAT TARAWIH 8 REKAAT APA 20 REKAAT YA???
(Bagian Kedua)
Terus mau pilih yang mana? ya terserah maunya kita sendiri2, wong yang tahu kekuatan badan kita, ya kita sendiri, bukankah Allah memerintahkan kita agar kita bertaqwa kepada-Nya atas kemampuan kekuatan kita, mau yang paling sedikit 8 rekaatnya, atau 20, atau 30 rekaat, tapi jangan dikira yang paling sedikit rekaatnya itu justru paling cepat selesainya, monggo disimak, dengan apik, bijak, dan seksama dibawah ini :
1. Sholat Tarawih 8 rekaat :
Berdasarkan dalil berikut :
• Hadits Abu Salamah ibn Abdurrahman, riwayat imam Bukhari(1873, 2013 & 3569) :
" عن أَبِىْ سَلَمَةَ بنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ  أَنَّـهُ سَأَلَ عَائِـشَـةَ  كَــيْـفَ كَاَنـــتْ صَـلاَةُ رَسُوْلِ اللهِ  فِىْ رَمَضَـاْنَ، فَقَالَـتْ : مَاْ كَاْنَ يَــزِيْـدُ فِىْ رَمَضَـاْنَ وَلاَ فِىْ غَــيْـرِهِ عَلَىْ إِحْــدَىْ عَـشْـرَةَ يُصَــلِّىْ أَرْبـَـعًا فَلاَ تـــَـسَـلْ عَنْ حُسْنِـهِــنَّ وَطُــوْلِــهِــنَّ ثــُمَّ يُصَــلِّىْ أَرْبــَعًـا فَلاَ تــَسْـأَلْ عَنْ حُسْنِــهِــنَّ وَطُــوْلِــهِــنَّ ثـــُمَّ يُصَــلِّىْ ثــَلاَثـــًا فَــقُـلْتُ : يَاْ رَســُوْلَ اللهِ أَتــَـنَـاْمُ قَــبْـلَ أَنْ تـــُـوْتِــرَ؟ قَاْلَ : يَاْ عَاْئِـشَــةُ إِنَّ عَــيْـنَـيَّ تـَنَــاْمَاْنِ وَلاَ يَـنَــاْمُ قَــلْـبـــِىْ  " رواه البخارى  [فتح البارى : 4 / 205]
" Dari Abu Salamah Ibn Abd.Rahman, ia bertanya kepada Aisyah RA. tentang bagaimana shalat Rasul Allah dalam bulan Ramadhan, ia menjawab: Rasul Allah SAW mengerjakan shalat ( baik dalam ) bulan ramadhan atau diluar ramadhan tidak lebih dari 11 ( sebelas ) rakaat, Beliau shalat ( pertama kali ) 4 rakaat, dan jangan tanya kamu tentang bagus, indah dan panjangnya shalat itu, kemudian (pada tahap kedua ) shalat lagi dengan 4 rakaat, dan jangan tanya tentang bagus, indah dan panjangnya shalat itu, terakhir beliau shalat dengan 3 rakaat  witir,  Aku bertanya : Ya Rasul Allah adakah engkau tidur sebelum mengerjakan shalat witir?, Beliau menjawab: Hai Aisyah,  sesungguhnya dua mataku  tidur,  sedangkan hatiku  tidak  (pernah) tidur "
• Atsar  yang diriwayatkan oleh Imam Malik , dari  Muhammad ibn Yusuf  dari As-Saib ibn Yazid :
 " أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنِ كَعْبٍ وَ تَمِيْمًا اَلدَّاْرِىْ أَنْ يَقُوْمَا لِلنَّاْسِ بِإِحْدَىْ عَشْرَةَ رَكْعَةً، قَـاْلَ : وَقَدْ كَاْنَ اَلْقَاْرِئُ يَقْرَأُ بِالْمِئـِيْنَ حَتَّى كُنَّاْ نـَعـْتَمِدُ عَلَىْ الْعِصِىِّ مِنْ طُوْلِ َاْلقِيَامِ وَ مَا كُنَّا نَنْصَرِفُ إِلاَّ فِىْ بُزُوْغِ الـــْفـَجـْرِ" [شرح الزرقانى : 1/238]
" Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan  sahabat Ubay ibn Ka'ab dan Tamim Ad-Dary agar mengimami shalat Tarawih  bersama orang-orang dengan 11 rakaat, Rowi berkata : Dan waktu itu Imam membaca surah Al-Qur’an yang terdiri ratusan Ayat  sehingga  kita bersandar kepada tongkat karena panjangnya berdiri, dan shalat tidak selesai kecuali sudah  masuk (terbit) fajar "
• Hadits Hudzaifah ra., yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :
" أَنَّــهُ صَلَّىْ مَعَ النَّبِىِّ   لَيْــلَـةً فَقَرَأَ اَلْبَقــَرَةَ وَ آلَ عِمْرَانَ وَ النِّسَاءَ فِىْ رَكـــْعَــةٍ  وَ كَاْنَ إِذَا مـَرَّ بِآيــَةٍ  فِيْهَاْ تَسْبِيْحٌ سَبَّحَ  أَوْ سُؤَالٌ سَأَلَ أَوْ تَعَــوُّذٌ تَعـــَوَّذَ ، ثُمَّ رَكَعَ نَحْوًا مِمَّا قَاْمَ ثُمَّ  قَاْمَ  نَحْوًا مِمَّا رَكَعَ  ثُمَّ سَجَدَ نَحْوًا مِمَّا قام"  [صحيح مسلم : 1/312 - فتح الباري شرح صحيح البخاري : 3/19 - البدر المنير في تخريج الأحاديث والأثار الواقعة في الشرح الكبير : 4/221]
" Sesungguhnya sahabat Hudzaifah ra. shalat ( tarawih ) bersama dengan Nabi Muhammad SAW  pada suatu malam, kemudian  beliau      ( dalam  shalat  itu setelah membaca surat Al-Fatihah )  membaca surat Al-Baqarah,  Aali Imran dan An-Nisa' dalam satu rakaat,  dan dalam membaca Al-Qur'an beliau apabila menjumpai Aayat yang ada Tasbihnya beliau membaca Tasbih, dan apabila menjumpai ayat permohonan, beliau memohon  kepada Allah dan begitu  juga  apabila  ada ayat perlindungan, beliau memohon perlindungan  kepada Nya, (setelah  selesai membaca Al-Qur'an)  beliau lalu ruku',  (lamanya ruku'  tersebut) sama seperti waktu berdiri, kemudian berdiri  dari ruku' (iktidal), dimana lamanya  sepadan  dengan  lamanya  ruku', kemudian beliau sujud,  yang  lamanya juga  sepadan  dengan  waktu berdiri dari ruku'  (iktidal).
Melihat dan memperhatikan hadits tersebut, sholat Tarawih dengan 8 rekaat dan sholat Witir dengan 3 rekaat, rekaat dan amalan2 sholatnya seperti ruku’, I’tidal, sujud dan lainnya sangat panjang sekali, sebagai standarnya adalah bacaan Al-Qur’an, Al-Qur’an yang dibaca sebagaimana dijelaskan dalam hadits ke 2 dengan ratusan ayat sementara dalam hadits yang ke 3 secara gamblang dan terang ratusan ayat yang dibaca dalam satu rekaat itu berupa 662 ayat terdiri dari surat Al-Baqarah : 286 ayat, Ali-Imron :200 ayat dan An-Nisa’ : 176 ayat, belum lagi lama ruku’ I’tidal dan sujud, yang lamanya hampir menyamai lama bacaan Al-Qur’an, karena itulah sholatnya selesai hampir mendekati sholat fajar (hadits ke 2).
Adakah diantara kita yang mampu atau kuat melakukan sholat Tarawih 8 rekaat, dengan meniru hadits ini? Allahu A’lam, barangkali tidak akan ada yang mampu menjalankannya.
Lalu, sebaiknya bagaimana ….?


ENAKNYA SHOLAT TARAWIH 8 REKAAT APA 20 REKAAT YA???
(Bagian Ketiga)
2. Sholat Tarawih 20 rekaat
Melihat sholat yang demikian panjang, sehingga baru selesai menjelang shubuh, Sayyidina Umar bin Khottob ra. mengambil kebijakan baru untuk melaksanakan sholat Tarawih dengan 20 rekaat, karena dengan 20 rekaat sholat bisa lebih ringan, bacaan ayat Al-Qur’annya lebih pendek, sebagaimana dasar-berikut ini :
• Hadits Abdullah bin Abbas ra., riwayat Imam  Baihaqi (4799) :
 كَانَ النَّبِىُّ  يُصَلِّى فِى شَهْرِ رَمَضَانَ فِى غَيْرِ جَمَاعَةٍ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ
“Abdullah bin Abbas ra. berkata : Ada Nabi saw. shalat tarawih dalam bulan Ramadhan dengan 20 reka’at dan witir”
• Atsar, diriwayatkan oleh Saib bin Yazid ra., riwayat Imam Baihaqi (4393) :
قال : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ  فِي شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً
“ Saib bin Yazid berkata : Mereka pada masa Umar bin Khottob menjalankan shalat Tarawih dengan 20 reka’at ”
• Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Malik ra. (255, 303), dari Yazid bin Ruman ra. :
أَنَّهُ قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
“ Yazid bin Ruman berkata : Masyarakat pada masa Umar bin Khottob menjalankan shalat Tarawih dengan 23 reka’at (20 Tarawih dan 3 Witir) ”
• Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi ra., dari Yazid bin Ruman ra. :
قَالَ : كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِى زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ  فِى رَمَضَانَ بِثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً، وَيُمْكِنُ الْجَمْعُ بَيْنَ الرِّوَايَتَيْنِ، فَإِنَّهُمْ كَانُوا يَقُومُونَ بِإِحْدَى عَشْرَةَ، ثُمَّ كَانُوا يَقُومُونَ بِعِشْرِينَ وَيُوتِرُونَ بِثَلاَثٍ ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
“ Yazid bin Ruman berkata : Masyarakat pada masa Umar bin Khottob menjalankan shalat Tarawih dengan 23 reka’at (20 Tarawih dan 3 Witir), Imam Baihaqi berkata : Ada kemungkinan 2 riwata itu digabung, mereka pada awal kekuasaan Umar sholat dengan 11 reka’at, kemudian setelah itu mereka shalat dengan 23 reka’at, Wallahu A’lam”
• Atsar yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi (4681), dari Abu Al-Khosib r. :
قال: كان يَؤُمُّنا سُوَيدُ بنُ غَفَلَةَ في رَمَضانَ فيُصَلِّى خَمسَ تَرويحاتٍ عِشرينَ رَكعَةً ورُوِّينا عن شُتَيرِ بنِ شَكَلٍ، وكانَ مِن أصحابِ عليٍّ ، أنَّه كان يَؤُمُّهُم في شَهرِ رَمَضانَ بعِشرينَ رَكعَةً، ويوتِرُ بثَلاثٍ
“ Abu Al-Khosib berkta : Suwaid bin Ghofalah mengimami sholat kita dalam bulan Ramadhan, ia sholat dengan lima istirahatan, yaitu 20 reka’at, dan kita meriwayatkan dari Syutair bin Syakal, ia adalah salah seorang dari teman-teman sahabat Ali karramallohu wajhah, ia mengimami sholat tarawih mereka dengan 20 reka’at dan dengan 3 witir ”
Dari sinilah kemudian Kholifah Umar bin Khottob ra. menetapkan pilihan dengan yang lebih ringan, yaitu dengan 20 reka’at tarawih dan 3 witir, mungkin kita bertanya bagaimana mungkin 8 reka’at saja shalat tarawihnya selesai menjelang shubuh, kok malah memutuskam menambah reka’atnya, apakah justru tidak semakin lama?
Inilah rahasianya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam As-Syafi’ie rh. bahwa shalat tarawih adalah tergolong shalat sunnah, tidak ada ketentuan batasan jumlahnya, semua diserahkan pribadi masing-masing, demikian beliau berkomentar :
قَالَ الشَّافِعِيُّ: وَلَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْ هَذَا ضِيقٌ، وَلَا حَدٌّ يُنْتَهَى إِلَيْهِ؛ لِأَنَّهُ نَافِلَةٌ فَإِنْ أَطَالُوا الْقِيَامَ وَأَقَلُّوا السُّجُودَ فَحَسَنٌ، وَهُوَ أَحَبُّ إِلَيَّ، وَإِنْ أَكْثَرُوا الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ فَحَسَنٌ [فتح البارى: 4/205  +  بلوغ الأمانى : 5/18]
“Imam Syaf’ie berkata : Tidak ada masalah dan tidak ada batas dalam hal shalat tarawoh ini, karena shalat tarawih ini termasuk shalat sunnah, kalua mereka memanjangkan bacaan Al-Qur’an dan yang lainnya, dan menyedikitkan sujud (reka’at), maka baik!, dan ini yang lebih aku sukai, dan jika mereka memperbanyak ruku’ dan sujud (reka’at) maka juga baik”
Sementara Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathu-l Bary, menjelaskan demikian :
" وَالْجَمْعُ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاْتِ مُمْكِنٌ بِاخْتِلَافِ اَلأَحْوَاْلِ وَيَحْتَمِلُ أَنَّ ذَلِكَ الإِخْتِلاَفِ بِحَسَبِ تَـطـــْوِيْلِ اْلــقـــِرَاءَةِ وَتَـخـْفـِيـْفـِهـَا فَحَيْثُ تُـطـِيـْلُ اَلْقِرَاءَةُ تــَقـــِلُّ الرَّكــَعــَاتُ وَبِالْـعــَكــــْسِ  " [فتح البارى : 4/205]
"Untuk menggabungkan antara beberapa riwayat, bisa dengan melihat perbedaan situasi, dan perbedaan itu (haqiqatnya)  didasarkan  pada panjang dan pendeknya bacaan Al-Qur'an (dan lainnya), maka sekiranya bacaan Al-Qur'an (dan lainnya)  panjang, maka jumlah  reka’atnya  menjadi sedikit, begitu  juga  sebaliknya  (jika pendek bacaannya, rakaatnya  menjadi banyak)
Artinya apabila bacaannya seperti yang dicontohkan Nabi saw. dan diikuti oleh Kholifah Abu Bakar dan pada awal pemerintahan Kholifah Umar bin Khottob, maka jumlah reka’atnya seeikit 11 rekaat (Tarawih 8 dan 3 witir).
Akan tetapi Sayyiduna Umar tidak lama mengerjakan dengan sebelas reka’at, beliau memilih yang 23 reka’at bersama witir, karena yang ini meringankan para jema’ah shalat Terawih, sebab bacaan Al-Qur’annya tidak begitu panjang.
Umat yang istiqomah melakukan shalat 20 rekaat tarawih dan 3 witir adalah penduduk Makkah, dari masa sugengnya baginda Rasulullah saw. sampai sekarang, sebagaimana penjelasan berikut :
" فَمَنْ  اِقْتَدَىْ بِأَهْلِ مَكَّةَ فَقَامَ بِعِشْرِيْنَ فَحَسَنٌ ، وَمَنْ اِقْتَدَىْ بِأَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فَقَامَ بِسِتٍّ وَثَلاَ ثِيْنَ فَحَسَنٌ أَيْضًا، لأَ نَّهُمْ  إِنَّمَا أَرَادُوْا بِمَا صَنَعُوْا الإِقْتِدَاءَ بِأَهْلِ مَكَّةَ فِىْ الإِسْتِكْثَاْرِ مِنَ الْفَضْلِ لاَ اَلْمُنَافَسَةِ كَمَا ظَنَّ بَعْضُ النَّاسِ ، وَمَنْ اِقْتَصَرَ عَلَىْ عِشْرِيْنَ وَقَرَأَ فِيْهَا بِمَا يَقْرَؤُهُ  غَيْرُهُ فِىْ سِتٍّ وَثَلاَ ثِيْنَ كَانَ أَفْضَلُ ، لأَنَّ طُوْلَ الْقِيَامِ أَفْضَلُ مِنْ كَثْرَةِ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ ، قِيْلَ وَالسِّرُّ فِىْ العِشْرِيْنَ أَنَّ الرَّاتِبَةَ فِىْ غَيْرِ الرَّمَضَانِ عَشْرُ رَكَعَاتٍ فَضُوْعِفَتْ فِيْهِ لأَنَّهُ وَقْتُ جِدٍّ وَتَشْمِيْرٍ، انتهى
" Barang siapa (menginginkan) mengikuti Ahli Makkah, kemudian melakukan shalat Tarawih  dengan 20  Rakaat, itu adalah  (perbuatan) baik, dan barang siapa (mengingin-kan) mengikuti Ahli Madinah kemudian melakukan tarawih dengan 36 rakaat, itupun juga baik, karena (haqiqatnya) mereka menginginkan dengan apa yang dikerjakan itu adalah  mengikuti jejak Ahli Makkah dalam memperbanyak keutamaan Ibadah, bukan dalam berlomba seperti yang menjadi prasangka sebagian orang. Dan barang siapa mencukup-kan dengan mengerjakan 20 rakaat lalu membaca dengan apa yang dibaca oleh lainnya dalam mengerjakan dengan 36 rakaat, maka itu akan lebih utama, karena panjang berdiri itu lebih utama dari pada banyaknya ruku' dan sujud. Adapun rahasia 20 rakaat itu,  bahwasannya shalat sunnah diluar bulan Ramadhan itu banyaknya 10 rakaat,  kemudian karena bulan Ramadhan merupakan bulan bersungguh-sungguh dan meningkatkan dalam mencari keutamaan, maka dilipat gandakanlah  ibadah  (dari 10 menjadi 20 rakaat).
Adapun bacaan Al-Qur’an dengan 20 reka’at ini yang utama adalah dengan mengkhatamkan Al-Qur’an, 30 juz selama bulan Ramadhan
Wallahu A’lam, Wahuwa Al-Musta’an.


ENAKNYA SHOLAT TARAWIH 8 REKAAT APA 20 REKAAT YA?
(Bagian Keempat)
3. Sholat Tarawih 30 rekaat atau lebih :
Sebaiknya lebih baik kita mengetahui terlebih dahulu kenapa mereka shalat Terawih lebih dari 20, ada yang 30 dan 36, perhatikan pendapat ulama berikut ini :
" قَالَ أَصْحَابُنَا: سَبَبُهُ أَنَّ أَهْلَ مَكَّةَ كَاْنُوْا يـَطُوْفُوْنَ بَيْنَ كُلِّ تَرْوِيْحَتَيْنِ طَوَافًا وَيُصَلُّوْنَ رَكْعَتَيْنِ وَلاَ يَطُوْفُوْنَ بَعْدَ التَّرْوِيْحَةِ اَلْخَامِسَةِ ، فَأَرَادَ أَهْلُ الْمَدِيْنَةِ مُسَاوَاتــَهُمْ فَجَعَلـــُوْا مَكَانَ كُلِّ طَوَافٍ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَزَادُوْا سِتَّ عَشْرَةَ رَكْعَةً وَأَوْتِرُوْا بِثَلاَثٍ فــَصَارَ اَلْمَجْمُوعُ تِسْـعـًا وَثَلاَ ثِيْنَ ، والله أعلم [المجموع شرح المهذب : 3/527]
" Berkata Ashhabuna (As-Syafi'iyah) : Hal yang menyebabkan penduduk Madinah menambah raka’at Tarawih (dari 20 menjadi 39 rakaat) adalah, bahwasannya penduduk Makkah pada setiap selesai mengerjakan 2 kali istirahat tarawih, mengerjakan thawaf dan shalat sunnah thawaf 2 rakaat, dan mereka tidak mengerjakan thawaf setelah istirahat yang kelima, (dengan demikian) penduduk Madinah mengaharapkan kesamaan (dalam mendapatkan keutamaan dan pahala bulan Ramadhan), maka mereka menjadikan sebagai ganti thawaf dengan shalat 4 rakaat, dengan demikian mereka menambah 16 rakaat (Tarawih) dan  (mereka  tetap shalat)  witir 3 rakaat,  Jadi  jumlah  semua menjadi 39 raka’at (terawih 36 + witir 3)."
Inilah alasan, kenapa penduduk Madinah shalat Tarawihnya tidak 20 reka’at, tapi justru lebih dari 20 rekaat, diatas disebutkan dengan 36 terawih dan 3 witir, dari mana angka itu? disebutkan orang2 Makkah setiap dua kali istirahat, berarti 4 rekaat, mereka melakukan thowaf sebagai ganti istirahat, mereka berpendapat dari pada istirahat tanpa mengerjakan sesuatu mereka memilih agar dapat keutamaan dan berkah Ramadhan mereka mengganti istirahat dengan melakukan thawaf ; 7 kali mengelilingi Ka’bah dan shalat 2 reka’at sunnah thawaf, setelah itu baru meneruskan shalat tarawih, jadi kalau 20 reka’at setiap 2 salam, 4 rekaat berarti ada 4 x istirahat, karena yang terakhir mereka tidak melakukan thawaf, artinya 4 x istirahat oleh orang Madinah diganti dengan setiap kali istirahat dengan 4 rekaat, jadi 4 istirahat x 4 reka’at = 16, dengan demikian 20 + 16 = 36, ditambah witir ada yang 3 reka’at, sebagaimana keterangan diatas, ada juga yang shalat witirnya 5 reka’at , sebagaimana hadits Aisyah ra., riwayat Imam Abu Dawud (1359 & 1367), Ahmad (26401 & 26359) dan Baihaqi (4580 & 4802)  dll. :
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ  يُصَلِّي ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً بِرَكْعَتَيْهِ قَبْلَ الصُّبْحِ، يُصَلِّي سِتًّا مَثْنَى مَثْنَى، وَيُوتِرُ بِخَمْسٍ، لَا يَقْعُدُ بَيْنَهُنَّ إِلَّا فِي آخِرِهِنَّ »
“Aisyah ra. berkata : Ada Rasulullah saw. melakukan shalat 13 reka’at, termasuk 2 reka’at sebelum shubuh, dimana beliau shalat dengan 2 reka’at salam, 2 reka’at salam, dan melakukan shalat witir dengan 5 reka’at, tidak duduk diantara 5 reka’at, kecuali pada akhir reka’at”
Dan witir sebanyak ini juga pernah dilakukan orang2 masa lalu, sebagaimana keterangan dibawah ini :
وَقَالَ صَالِحٌ مَوْلَى التَّوْأَمَةِ : أَدْرَكْت النَّاسَ قَبْلَ الْحَرَّةِ يَقُومُونَ بِإِحْدَى وَأَرْبَعِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِخَمْسٍ، يُسَلِّمُونَ بَيْنَ كُلِّ اثْنَتَيْنِ [المغني لإبن قدامة : 1/824]
“Sholih  Maula At-Tau’amah berkata : Saya menjumpai masyarakat sebelum musim panas mereka melakukan sholat tarawih dengan 40 reka’at, dan shalat witir dengan 5 reka’at, mereka salam setiap 2 reka’at”
Inilah ragam sholat Terawih, jadi sangat beragam ada yang 11, 13, 23, 39 dan 41, monggo silahkan mau pilih yang mana, semua harus konsukwen mau 8 reka’at ya bacaan Al-Qurnya harus panjang, mau 20 reka’at atau lebih, ya bacaannya Al-Qur’annya sedang2 saja, boleh minimal 5 ayat, tapi yang paling bagus adalah mengkhatamkan Al-Qur’an 30 juz dalam sebulan, agar mendapatkan berkah khatam Al-Qur’an.
Semua sah2 saja, nggak usah nyinyir, apalagi membid’ahkan sana sini, semua sudah dicontohkan oleh Nabi, sahabat dan para Tabi’in, orang2 pilihan dari yang terpilih, mau yang 20 reka’at ini yang dipilih dalam madzhab Hanafi, Syafi’ir dan Hambali, sementara lebih dari 30 itu adalah pilihan Imam Malik bin Anas dan pengikutnya, atau yang 8 reka’at.
Tetapi yang melakukan Terawih 8 reka’at saya mengingatkan monggo shalat terawihlah sesuai yang dicontohkan Nabi, ingat disana bunyi haditsnya ada “La Tas’al An Thulihinna wa Husnihinna, Jangan engkau bertanya tentang panjang dan bagusnya 8 reka’at itu”, jangan malah yang 8 reka’at, lebih cepat dari yang 20 reka’at.
Monggo pilih yang mana? Istafti Qolbak!!!, kembalikan ke hati kita, ke keikhlasan kita!!!
Wallaha Al-Musta’an!

ENAKNYA SHOLAT TARAWIH 8 REKAAT APA 20 REKAAT YA?
(Bagian Kelima)
Cara mengamalkan shalat Terawih :
1. Dilakukan setelah sholat isya’
2. Lebih afdhol/utama dilakukan dengan cara berjama’ah/bersama2
3. Niat sholat Tarawih/witir
4. Dilakukan dengan dua reka’at salam
Berdasarkan hadits Abdullah bin Umar ra., diriwayatkan oleh Imam Bukhori (936, 938, 990 & 993), Imam Muslim (749, 1239, 1241 & 1252), Turmudzi (437 & 597), Nasa’ie (439, 476, 1385 & 1403) Dawud (1325 & 1328) Ibnu Majah (1175 & 1319), Baihaqi (Shughro : 439, Kbro : 4725, 4753, 4955 & 4967) dll. :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ: أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ  عَنْ صَلاَةِ اللَّيْلِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ  : «صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى»
“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. tentang shalat malam, Rasulullah saw. menjawab : Shalat malam itu terdiri dari 2 reka’at, 2 reka’at, jika salah satu diantara kalian takut waktu shubuh, maka shalatlah satu reka’at, dengan shalat yang sudah kalian lakukan”
Tidak ada satupun hadits yang menerangkan, bahwa shalat Tarawih dengan 4 reka’at satu salam, karena shalat Tarawih termasuk shalat malam.
5. Boleh dilaksanakan awal malam atau akhir malam
6. Setelah shalat Tarawih selesai, langsung disunnah shalat Witir, boleh, 3 reka’at, 5 reka’at, 7 reka’at atau 9 reka’at, boleh dilakukan dengan 2 reka’at + 1 reka’at, atau langsung 3 reka’at, tetapi pendapat yang masyhur adalah 2 reka’at + 1 rekaat, berapapun jumlah shalat witirnya
7. Mulai tanggal 16 Romadhon disunnahkan membaca do’a qunut
8. Bagi yang membaca Al-Qur’an khatam 30 juz dalam satu bulan disunnahkan membaca do’a khotmi-l Qur’an dalam reka’at terakhir sholat Tarawih, dan do’a witir tetap sunnah.
Dengan keterangan diatas jelas, cetho welo2 bagi kita dalil-dalil berapa kita harus sholat Tarawih?, tinggal kita mau pilih yang mana? pokoknya yang penting ikhlas dan konsisten, begitu juga dengan witirnya mau yang berapa juga dipersilahkan milih.
Pesan saya jangan dirikan sholat Terawih dengan mencari jama’ah banyak dengan mempercepat sholat!!!
Dan jangan sholat memilih Imam yang cepat selesai, ingatlah bahwa sholat pada prinsip dasar tujuannya adalah Inni wajjahtu Wajhiya Li-l Ladzi Fathoro-s Samawati, Ya Allah aku sowan, menghadapkan wajahku dihadapan Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi ….
Ingatlah hadits Abdir Rahman bin Aouf ra., diriwayatkan oleh Imam Ahmad (1660), Ibnu Majah (), perintah sholat Tarawih :
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَـوْفٍ    أَنَّ الـنَّبِىَّ  قَالَ : إِنَّ اللهَ    فَرَضَ صِيَـامَ رَمَضَانَ وَ سَنـَنْتُ قِـيَـامَهُ، فَمَنْ صَامَهُ وَقَـامَـهُ إِيــْمَـانــًا وَاحْتِسَابـًا خَـرَجَ مِنْ ذُنـــُوْبــِهِ كَـيـَوْمَ وَلَدَتــْهُ أُمُّــهُ "
رواه أحمد و النسائى وابن ماجه [مسند الإمام أحمد + نيل الأوطار: 3/59]
" Sesungguhnya Nabi saw. bersabda : Sesungguhnya Alllah Azza wa Jalla telah mewajibkan puasa bulan ramadhan dan Aku telah menuntunkan shalat (Tarawih)nya, Barang siapa puasa ramadhan dan shalat tarawih karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya akan keluar bagaikan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya " 
 ( HR.Imam  Ahmad, Nasai dan Ibn Majah )
#Selamat menunaikan ibadah Puasa, kita semua tetap sehat sentousa#
#Marhaban Ya Romadhan, Ya Syahral Qur’an Wa-l Ghufron#
والله أعلم بالصواب عليه توكلت وإليه أنيب وهو حسبي ونعم الوكيل
ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم وهو الموفق الى أقوم الطريق والهادي الى سواء السبيل

• Sumber : Kesahihan Dalil Sholat Tarawih 20 Reka’at, oleh Muhammad Hanif Muslih


Tulisan ini bersumber dari Laman Facebook : Muhammad Hanif Muslikh

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2811618562207842&id=100000791777278?sfnsn=wiwspmo&extid=fI3ABrrHKXrEqMg1


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Mbah Sahal , Mbah Maimun , Mbah Dim berbeda Pendapat

Abah Dimyati Rois diajak Haji Mbah Hamid Pasuruan

Mbah Dim : Gusti Allah niku Unik