Kelahiran dan Nasab Beliau

Kyai Ru'yat lahir dari rahim seorang ibu bernama Sujatmi pada tahun 1305 H/ 1885 M di sebuah sudut kampung yang bernama Pungkuran Kutoharjo Kaliwungu Kendal.

Nasab lengkap dari jalur ayah menurut satu pendapat adalah Ahmad Ru'yat bin Abdullah Wiryodikromo bin Musa (Ki Bobos) bin Abdul Baqi bin Ma'arif bin Qomaruddin bin Walido.

Kakek buyut beliau yang bernama Kyai Qomaruddin dikenal sebagai seorang figur kyai yang memiliki kesaktian yang hebat. Kakek buyut beliau inilah konon yang memimpin bala tentara milik Kanjeng Jepara Tjitrosumo yang saat itu diperbantukan kepada Kanjeng Kaliwungu tatkala kedatangan gerombolan Ki Kowek, seorang Tetunggul Berandalan yang hendak merebut kekuasaan Kanjeng Kaliwungu.

Kyai Qomaruddin bersama bala bantuan tadi akhirnya berhasil menangkap Ki Kowek sekaligus menghabisinya. Dengan keberhasilan yang beliau capai ini, pada akhirnya Kyai Qomaruddin diberi tanda jasa  oleh Kanjeng Kaliwungu berupa pemberian pangkat. Yakni menjadi seorang Penghulu dan sesepuh Kaliwungu. (Seperti yang sering kali diceritakan oleh Sesepuh Kaliwungu)

Menurut  versi yang lain, Kyai Qomaruddin memiliki berbagai nama, yakni: Qomaruddin, Burhanuddin, Poleleto, dan Amiluhul.

Versi yang mengatakan bernama Amiluhul menyebutkan, bahwa beliau berasal dari Aceh. Beliau adalah seorang panglima perang angkatan laut yang diburu sehingga bersembunyi di Jepara. Kemudian di Demak beliau dijadikan seorang Panglima perang oleh Raden Fattah, lantas dikirim ke Kaliwungu tatkala meletus sebuah peperangan. Pada peperangan itulah, beliau berhasil menyapu bersih para musuh sehingga meraih kemenangan dan berhasil menguasai penuh Kaliwungu. (Seperti yang diriwayatkan oleh Faishol bin H.Muhsin Jagalan dari seorang Syeikh dari Kudus)

Kyai Qomaruddin ini, menurut satu riwayat dimakamkan di desa Kedungsuren. Adapun ayahnya yang bernama Walido dimakamkan di Jepara.

Guru Kyai Ru'yat Kala Di Kaliwungu

Dikala masih kecil, Kyai Ru'yat mengaji Al-Qur'an di kampung Petekan dengan seorang Alim yang bernama Kyai Abdul Karim.

Pernah suatu ketika dikala beliau sedang mengaji surat An-Nas, tiba-tiba terjadi hujan abu yang pekat yang diakibatkan oleh meletusnya gunung Kelud. Hal ini membuat banyak penduduk menyalakan damar sebab begitu pekatnya langit.

Kejadian itu membuat Kyai Ru'yat kecil ketakutan dan pada akhirnya kembali ke rumah. Kejadian ini terjadi tepat pada tanggal 27 Shofar 1318/ 1901 M.

Selain itu, beliau juga mengaji kitab Tashrifan dan Jurumiyah kepada seorang Waliyulloh bernama Kyai Barmawi di belakang Pondok Kauman.

Selepas mengalami peningkatan, beliau melanjutkan ngajinya kepada seorang pendiri Pesantren Petekan yang juga merupakan anak dari Guru Al-Qur'annya dahulu, yakni Al-Mukarrom Kyai Ahmad bin Al-Allamah Kyai Abdul Karim bin Rifa'i. Kepada Kyai Ahmad, beliau mengaji kitab Hasiyah al Bajuri Ala Fathil Qorib.

Beliau juga mengaji sekian judul kitab-kitab ilmu Syariah dan perangkatnya seperti Fathul Wahhab, Qotrun Nada, Taqribul Ushul kepada Paman beliau sendiri yakni Al Allamah az Zahid Kyai Irfan bin Musa, Sang Pendiri Pesantren APIK yang merupakan salah satu murid Kyai Ahmad Nahrowi Banyumas dan Syeikh Mahfudz Termas yang keduanya muqim dan wafat di Makkah.

أخذ المعارف من مشايخ قريته # عبد الكريم مع ابنه ذي الشان
و من الولي برموي وعمه # ذي الزهد في دار الفنا عرفان

“Kyai Ru'yat menimba ilmu pengetahuan dari Masyayikh kampungnya (Kaliwungu), yakni yang mulia Kyai Abdul Karim, serta anaknya (Kyai Ahmad).
Dan dari seorang Wali yang bernama Barmawi, juga pamannya yang Zahid dengan dunia, yakni Kyai Irfan.”

Guru Kyai Ru'yat Di Luar Kaliwungu

Selepas Kyai Ru'yat mulai bisa membaca kitab dan memahaminya, beliau akhirnya meneruskan pencarian ilmunya kepada Romo Kyai Idris Jemsaren Solo selama kurang lebih 12 tahun (1908-1920 M.) Dan berhasil mengusai sekian banyak kitab.

Dan yang mengangumkan adalah bahwa, di kala beliau mondok di Jemsaren, beliau sama sekali tidak meminta biaya dari rumah, akan tetapi beliau berusaha membiayai mondoknya sendiri.

هو من تلاميذ الفقيه البارع # ادريس من مسكنه جمسارين

“Beliau termasuk salah satu murid dari al Faqih al Bari' Kyai Idris yang tinggal di Jemsaren.”

Teman beliau ketika mondok di Jemsaren yang berasal dari luar Kaliwungu di antaranya adalah Kyai Abdul Wahhab Gubuksari Pegandon, Kyai Dimyathi Comal Pemalang, Kyai Bajuri Indramayu, Kyai Ahmad Bali.

Dan yang berasal dari Kaliwungu dan seangkatan diantaranya: Kakaknya sendiri yakni Kyai Hidayat bin Abdullah Wiryo Pungkuran, Kyai Musa bin Hasan Pandean (w. 1367 H.), Kyai Irsyad bin Abdul Syakur Kampung Pesantren (w.1387 H.)

Sementara teman angkatan bawah beliau yakni Bpk. Irfan bin H. Asy'ari (Ayah Kyai Fauzan), adiknya yakni H. Muqri bin H.Asy’ari, Bpk. Abu Khoir bin H.Umar (ayah Kyai Ahmad Jazuli) dan adiknya Saman bin H. Umar, juga H. Ma'arif bin H.Dahlan (mertua Kyai Abu Khoir).

Pernikahan Kyai Ru’yat

Pada tahun 1920 M. Kyai Ru'yat pulang dari Pondok Jemsaren. Belum ada setahun dari kepulangannya, tepat pada bulan Jumadil Ula 1921 M, akhirnya beliau menikah dengan Nyai Zainab binti H. Ishaq bin Nyai Markilah (Fathimah) binti Kyai Husain bin Hamiyuddin bin Ma'arif bin Qomaruddin. Jadi, nasab Nyai Zainab dengan Kyai Ru'yat bertemu di Kyai Ma'arif.

Beliau Kyai Ru'yat kumpul dengan mertuanya kurang lebih selama empat tahun. Kemudian pada tahun 1924 M. Beliau menempati rumah sendiri yang berada di sebelah barat Masjid Al-Muttaqin Kaliwungu. Namun sampai meninggal dunia, Kyai Ru'yat tidak meninggalkan keturunan sama sekali.

Pekerjaan Kyai Ru'yat

Ketika masih lajang, pekerjaan yang digeluti Kyai Ru'yat adalah sebagai juru tulis sebuah Perusahaan Batik yang dimiliki oleh pamannya sendiri, yaitu Bpk. H. Muhsin bin Musa, seorang putra menantu guru Kyai Ru'yat yakni Kyai Abdul Karim bin Rifa'i Petekan. Setiap bulannya Kyai Ru'yat menerima bayaran sebesar Rp.7.50.

Hasil upah tiap bulan beliau kumpulkan selama empat tahun, sehingga pada akhirnya uang itu bisa dibuat berbisnis secara akad Qirodl dengan adiknya yang bernama Mas Darjo (Budiharjo) bin H. Hasan Ali.

Hasil dari bisnis inilah yang dibuat untuk membiayai mondoknya ketika di Jemsaren. Maka Mas Darjo setiap bulan sekali mengirimkan wesel untuk Kyai Ru'yat sebesar Rp.2.50.

Meskipun weselnya hanya sejumlah itu, akan tetapi saking begitu hati-hatinya dalam memakai uang, Kyai Ru'yat bahkan sampai bisa memberikan modal kepada temannya yang bernama Mas Thohir untuk berjualan segala macam kebutuhan untuk anak-anak pondok.

Perilaku Kyai Ru'yat semacam itu merupakan sebuah wujud Ittiba' kepada Salafuna Sholih. Seperti yang dinyatakan dalam kitab Ta'limul Muta'allim Hal 33, bahwa orang-orang dulu pada mulanya belajar kerja lalu mereka belajar ilmu sehingga mereka tiada tamak dengan harta benda orang lain.

Kemudian selepas menikah, Kyai Ru'yat bekerja di Perusahaan Batik dengan cara Syirkah dengan mertuanya sendiri yakni Bpk. H. Ishaq sampai ketika sudah pindah rumah di kampung Kauman. Diantara anak buah yang bekerja dengan beliau sebagai tukang cap batik adalah Waliyulloh Kyai Musyafa' bin Bahram.

Selepas Perusahaan Batik di Kaliwungu mengalami kemunduran, maka Kyai Ru'yat beralih profesi sebagai seorang petani, sambil berjualan jamu jawa dan kitab sampai beliau meninggal dunia.

Kitab Yang Diajarkan Beliau

Beliau seorang ulama yang begitu all out dalam membina ummat. Hal ini terbukti betapa rutinitas harian beliau penuh dengan mengajar.

Diantara kitab yang diajarkan oleh beliau adalah: Tafsir Jalalain, Fathul Wahhab, Ihya'Ulumiddin, ketiganya dibaca setelah subuh sampai pukul 08.00. Selepas itu dilanjutkan dengan membaca Shohih Bukhori, Syarh Mahalli Alal Minhaj, dan Iqna'. Kemudian setelah dzuhur beliau membaca kitab-kitab kecil berjumlah empat macam. Dilanjut ba'da ashar beliau membaca Tafsir Baidlowi.

Jika masuk bulan Romadlon, kitab yang selalu beliau baca sebagai wirid adalah Tafsir Jalalain dari semenjak pukul 07.00 pagi sampai pukul 15.00. Lalu setelah ashar beliau membaca Irsyadul Ibad, dan setelah shalat tarawih beliau membaca Ar-Riyadul Badi'ah dan Minhajul Abidin. Semua kitab tadi khatam di dalam bulan Romadlon. Konon dari semenjak beliau masih di pesantren, beliau sudah hobi membacakan kitab untuk teman-temannya.
Perlu diketahui, bahwa Kyai Ru'yat adalah tipikal Kyai yang sangat Tawadlu'. Beliau tidak malu mengaji kitab Tafsir Munir dengan muridnya yang bernama Shofi dari Randudongkal Pemalang, juga mau mengaji Durrotun Nashihin dengan santrinya yang bernama Irsyad dari Tegal.

Hal semacam ini memang sudah sesuai dengan adab para Ulama' dan di praktekkan oleh Salafuna Sholih. Dalam kitab Ta'limul Muta’allim disebutkan: Abu Yusuf ketika ditanya: “Sebab apa anda bisa menjadi orang yang benar-benar alim?” Ia menjawab: “Sebab aku tidak sombong dan mau mengaji/ mengambil ilmu dari siapa saja dan tidak pelit diminta mengajari siapa saja.

Seperti pula yang dinyatakan dalam sebuah hadits: “Ilmu yang bermanfaat itu adalah barang temuan orang mukmin, dimana saja ia menemukannya, ia bisa mengambilnya.”

Kyai Ru'yat amat suka memberikan faidah-faidah yang diambil dari Para Ulama'. Baik yang berkaitan dengan masalah hukum agama, doa-doa, atau wirid-wirid yang bermanfaat dunia akhirat. Seperti kata syair:

يهتم للمتعلمين بما نقل # من عالم ورع له قدر سني

“Amat penting bagi santri apa yang dinukil oleh seorang alim wira'i, disana terdapat derajat yang luhur.”

Geliat Ibadah Kyai Ru’yat

Wirid yang istiqomah di baca Kyai Ru’yat setiap hari adalah Dzikir menurut Thoriqoh Syathoriyyah. Hal ini beliau jalani semenjak beliau belum menikah. Wirid ini beliau baca setiap habis shubuh sebanyak 200 kali dan ba'da isya' juga 200 kali.

Beliau mengambil Thoriqoh ini dari Kyai Muhammad Ismail Kranggan Kaliwungu, dari ayahnya: Kyai Muhammad Thohir, dari Syeikh Najib Thohir al Madany, dari Syeikh Manshur al Budairy, dari ayahnya: Syeikh As'ad Thohir, dan seterusnya sampai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Akan tetapi Kyai Ru'yat sendiri belum mendapatkan izin dari Kyai Ismail untuk menurunkan Thariqot ini kepada orang lain.

Lalu pada akhirnya beliau meminta izin Kyai Abdul Wahhab (Jamhari) Gubuksari Pegandon untuk menurunkannya. Kyai Abdul Wahhab mengambil dari Kyai Muslim Bendakerep Cirebon, dari Kyai Muhammad Sholeh Bendakerep, dari Kyai Anwaruddin/ Kyai Keriyan Cirebon, dari Kyai Asy'ari (Kyai Guru) Kaliwungu, daei Syeikh As'ad dan seterusnya dengan sanad muttasil sampai kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Setiap ba'da maghrib, Kyai Ru'yat tidak pernah meninggalkan membaca Surat Yasin, Tabarok, dan Al Waqiah, dan juga membaca Dalail Khoirot dan hizib-hizib yang ada di bagian pinggir kitab Dalail.

Lantas ba'da isya' dzikir secara Thoriqoh Naqsyabandiah mengambil dari Waliyulloh Abu Manshur Popongan Delanggu Solo. Dzikir Jahr sejumlah 400 kali, dan dzikir sirry sebanyak 12.000 kali. Untuk kemudian dilanjutkan dengan Mutholaah kitab. Setelah tidur sebentar, beliau kembali bangun untuk melaksanakan shalat tahajud. Maka tak heran jika ada syair yang memujinya:

اوقاته قد اشبعت بمنافع # من بين تعليم و ورد مدمن

“Waktu beliau dipenuhi dengan hal-hal yang bermanfaat, antara mengajar dan wirid yang membuat ketagihan.”

Memang orang hidup di dunia mesti demikian. Sebab sudah dinyatakan dalam sebuah hadits: “Waktu bagaikan pedang, jika tak kau potong ia, kau yang akan ia potong.”

Kyai Ru'yat juga tipe orang yang lembut hatinya (Roqiqul Qolb). Hal itu terlihat dikala beliau membaca kitab. Jika disana ada ayat yang menerangkan tentang neraka dan isinya yang membuat merinding, atau disana disebutkan bahwa ada seorang alim yang sudah mengajarkan ilmunya di Masjidil Haram selama tak kurang dari empat puluh tahun, hanya saja ketika meninggal dunia, iman yang ia sandang lenyap (mati kafir), atau keterangan lain yang semacam itu, maka beliau akan sesenggukan dan diam hingga begitu lama.

Memang orang yang ingin selamat dari neraka harus seperti itu. Sebab di riwayatkan dari al Imam Ka'ab al Ahbar, bahwa ia berkata: “Aku menangis karena takut kepada Allah hingga berlinang air mataku lebih aku sukai daripada aku bersedekah emas seberat diriku. Sebab tiada seorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai berlinang bulir air matanya ke tanah kecuali ia tiada tersentuh api neraka.” (Durrotun Nashihin: 253)

Dan lagi, Kyai Ru’yat adalah seorang yang banyak mengingat mati. Orang semacam ini di sebut sebagai orang cerdas oleh Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, dan orang yang membawa kemuliaan di dunia, juga kenikmatan di akhirat.

Seperti dijelaskan dalam sebuah hadits: “Ketika Rasulullah ditanya tentang orang cerdas, siapa mereka? Beliau menjawab: Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapan menghadapinya. Merekalah orang-orang cerdas. Mereka akan pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kenikmatan akhirat.” (Kifayatul Atqiya': 59)

Maka beliau siang malam selalu membaca syair berikut:

ذنوبي مثل اعداد الرمال # فهب لي توبة يا ذا الجلال
وعمري ناقص في كل يوم # وذنبي زائد كيف احتمالي

“Dosa-dosaku layaknya sejumlah debu, maka berikan taubat kepadaku, wahai pemilik keagungan
Umurku berkurang di tiap hari sementara dosaku bertambah tak tertanggungkan.”

ذا الشيخ رؤية ابن عبد الله # من لم يزل ذكر المنون الداني

“Inilah Syeikh Ru'yat bin Abdillah, seorang yang tiada lekang mengingat Sang Maha Pemberi Yang Maha dekat.”

Wafatnya Beliau

Salah satu ibadah dan amal Kyai Ru'yat adalah menjalankan Haji beserta Nyai Zainab, istri tercinta. Berangkat dari rumah menuju tanah suci Makkah al Musyarrofah tanggal 2 Dzulqo'dah 1372 H. /1952 M. Pulang dari Mekkah lantas membangun komplek C dengan mencabut rumahnya sendiri dari kampung Pungkuran.

Lalu hari kamis tanggal 8 kira-kira pukul 14.00 beliau memerintah para santri agar selepas maghrib malam Jum’at tanggal 9 Robiul Akhir 1388 H. / 4 Juli 1968 M. untuk berkumpul di rumah dan membaca surat Yasin empat kali dan agar yang berdoa adalah Kyai Humaidulloh Irfan.

Namun sekali saja belum selesai, beliau tergesa memenuhi panggilan Sang Maha Agung, beliau wafat, pindah menuju kasih sayang Allah dan kelompok surga-Nya. Wahai Jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan kerelaan dan teridloi. Maka masuklah dalam hamba-hamba-Ku dan masuklah Surga-Ku.

يا صاح لا تكف عن عين جرت # دموعها بوفاة فحل كليوني

“Wahai kawan, jangan kau tahan mata yang mengalir air matanya tersebab wafatnya semulia-mulianya orang Kaliwungu.”

Sebab Baginda Nabi pernah mensabdakan: “Sesiapa tiada bersedih sebab wafatnya orang alim, maka ia munafik. Sebab tiada musibah yang lebih agung ketimbang wafatnya orang alim. Nabi juga menyampaikan: “Wafatnya orang alim itu keretakan di dalam agama.”

مع السلامة في امانه شيخنا # الله ربي ارحم مربي روحنا يا ربنا

Ritsa’ Kewafatan Sang Kyai

يا صاح لا تكف عن عين جرت # دموعها بوفاة فحـــل كليــوني

“Wahai kawan, jangan kau tahan mata yang mengalir air matanya tersebab wafatnya semulia-mulianya orang Kaliwungu.”

اوقاته قــــــــد اشبعت بمنــــافع # مــــن بين تعليم و ورد مدمن

“Waktu beliau dipenuhi dengan hal-hal yang bermanfaat, antara mengajar dan wirid yang membuat ketagihan.”

يهــــــــتم للمتعلمين بمــــا نقل # من عالم ورع له قـــــــدر ســـني

“Amat penting bagi santri apa yang dinukil oleh seorang alim wira'i, disana terdapat derajat yang luhur.”

أخذ المعارف من مشايخ قريته # عبـــد الكريم مع ابنه ذي الشان
و من الولي برموي وعمه # ذي الزهد في دار الفنا عرفان

“Kyai Ru'yat menimba ilmu pengetahuan dari Masyayikh kampungnya (Kaliwungu), yakni yang mulia Kyai Abdul Karim, serta anaknya (Kyai Ahmad).
Dan dari seorang Wali yang bernama Barmawi, juga pamannya yang Zahid dengan dunia, yakni Kyai Irfan.”

هو من تلاميذ الفقيه البارع # ادريس من مسكنه جمسارين

“Beliau termasuk salah satu murid dari al Faqih al Bari' Kyai Idris yang tinggal di Jemsaren.”

ذا الشيخ رؤية ابن عـــــبد الله # من لم يزل ذكر المنون الداني

“Inilah Syeikh Ru'yat bin Abdillah, seorang yang tiada lekang mengingat Sang Maha Pemberi Yang Maha dekat.”

في اليلة الجمـــعة بعد المغرب # تاسع ربيع الثـان ذي الإحسان
الفـــــــا توفــــــــين مع ثلاث # مـــــــــائة ثمانين ثمــــان عـــــــين

“Di malam Jum’at selepas maghrib, beliau wafat, tepatnya pada tanggal 9 Rabiuts Tsany 1388 H. yang memiliki kebaikan.

ياربنااعف عنه وارحم يا رحيم # واقمه في الأخرى فسيح جنان

Ya Allah, ampuni dan sayangi beliau, Wahai Sang Maha Penyayang. Dan tempatkan beliau di akhirat di Surga yang luas.”

وكذاك اهل والأقارب ذو انتما # سلــــــــــم على نبينا العدناني

Sampaikan salam kepada Nabi kami al Adnany, juga teruntuk keluarga, dan kerabat yang memiliki keterkaitan.”

Semoga Bermanfaat.

Oleh: KH. Abu Khoir Bin Abdul Mannan
Alih Bahasa: Ibn Asyiq Imron Al Himam
Axact

Alfadllu.com

Media silaturahim yang menjernihkan dan mencerdaskan, dengan informasi yang menginspirasi.

Post A Comment:

0 comments: