Syaikhoni adalah istilah yang kami definisikan kepada Kedua Guru yang mengajarkan Agama Islam di Kota Santri Kaliwungu, Kabupaten Kendal dan Sekitarnya , yang Pertama adalah KH Ahmad Rukyat , Beliau adalah Pengasuh  Al-Ma’hadus Salafi al-Kaumani yang kini dikenal dengan Ponpes APIK Kauman Kaliwungu ,yang Mulai didirikan Oleh KH Irfan bin Musa Pada tanggal 12 Februari 1919 M atau bertepatan dengan tanggal 12 Dzulhijjah 1338 H ,di Pesantren itulah , sejak Kyai Irfan wafat pada Tahun 1931 M , Kyai Rukyat melanjutkan kepemimpinan Kyai Irfan sebagai pengasuh Ponpes , menempa Santri yang datang Dari seluruh Pelosok Negeri hingga banyak sekali santri-santri nya bertebaran di Nusantara dan banyak Pula yang menjadi Ulama-Ulama Besar dan berpengaruh dalam mengembangkan ajaran Islam dan memperdayakan Ahlussunnah waljamaah .

 Adapaun Syeikh yang kedua adalah Syeikh KH Musyafa yang lebih sering dikenal Masyarakat sebagai Mbah Wali Musyafa , Mbah Musyafa merupakan Murid dari Mbah Ma'ruf Kedunglo , Kediri.
Mbah Musyafa mempunyai kebiasaan yang khowariqul adat di antaranya mengetahui hal yang akan terjadi di saat yang akan datang dengan memberikan isyaroh kepada Kyai Rukyat tentang akan terjadi nya paceklik dengan memberikan uang kepad Kyai Rukyat .

Kedua Guru ini begitu dekat dan akrab sampai setelah wafat pun kedua makam nya berdampingan , dann yang tadinya jarak satu makam ke makam lain agak berjauhan , dikemudian hari , sanpai sekarang nampak berdampingan semakin dekat , karena kedekatan dan saling bahu membahu dalam meluhurkan jalan Allah , dan tafaulan dengan Syaikhoni yang masyhur dalam ilmu hadits di nisbatkan  Kepada Imam Bukhori dan Imam Muslim , sedang dalam madzhab Imam Syafii itu dinisbatkan kepada Imam Nawawi dan Imam Rofii , maka bagi masyarakat Kaliwungu , khusunya kalangan santri untuk lebih dekat nya mengenang Kedua Guru itu denan Syaikhoni Kaliwungu .

Kyai Rukyat , begitu para santri akrab menyapa , dalam kapasitas nya sebagai Pengasuh pesantren yang mempunyai banyak santri , mencukupi kebutuhan hidup nya sebagai pengusaha Batik dan berdagang jamu dan kitab, demikian wira'i kehidupan nya , hanya bergantung kepada Allah melalui usaha / Usahanya demi mencukupi kebutuhan keluarga juga santri nya .

Kewira'i an tersebut hingga pada suatu saat , Ketum PBNU KH.Idham Kholid Sowan kepada Beliau  Kyai Rukyat ,  Saat itu Kyai Idham juga menjabat sebagai Wakil PM (Perdana Menteri RI) , Setelah bertemu dan bersilaturrohmi Kyai Idham pamit dan memberikan bingkisan  uang Rp.200ribu (krus sekarang sekitar setengah Milyard ) namun dg halus Kyai Rukyat menolak , pendekatan makna dialog antara Kyai Rukyat dan Kyai Idham , dimana Kyai Rukyat tidak bisa berbahasa Indonesia , hanya bisa satu kata dalam bahasa Indonesia ,yaitu " Saya " sedangkan Kyai Idham yang orang Kalimantan juga kurang lancar berbahasa Jawa ,meski dulu nya mesantren di Gontor , namun Kyai Idahm ini dikenal menguasai Tujuh Bahasa , dan dalam percakapannya dengan Kyai Rukyat kurang lebih seperti ini :

Kyai Rukyat : Pak idham niki arto di beto mawon,kulo sampun cekap

Kyai Idham :  niki arto damel Kyai mbangun pondok,

Kyai Rukyat : pondok sampun kulo bangun ,

Kyai Idham : mpun arto niki damel njenengan

Kyai Rukyat : sampun , kulo sampun cekap sbb kulo sadean jamu kalih sadean kitab ugi ,sampun cekap kulo .

Ahirnya pemberian itu tidak diterima , Kyai Idham tak bisa merayu kepada nya .

Dan sehubungan dengan Aktifitas dan rutinitas Kyai Rukyat di Pesantren , Kepada Kyai Idham juga Kyai Rukyat menyampaikan permohonan maafnya :

Pa Idham, kulo Ngapuntene mboten saged nderek kampanye PARTAI NU pemilu 1955,kulo sagede namung ngaos kalian santri lan masyarakat. 

Kyai Idham pun menjawab : nggih ingkang leres ngoten niku Kyai , Sebab Pesantren niku PERTAHANAN PARTAI NU.

Dalam menjalankan Usaha BATIK nya ,Kyai Rukyat dibantu oleh banyak santri dalam berproduksi dan pemasaran , salah satu pembantunya mbatik yaitu Musyafa , Musyafa ini Santri Karyawan yang mempunyai kelemahan sekaligus kelebihan tersendiri , bagaimana tidak ? Hasil batikan nya paling buruk , namun paling laku di jual nya .

Tingkah Khowariq dari Santri Musyafa ini banyak sekali , sehingga suatu saat mengalami tingkat Majdzub , karena ke anehan-keanehan ini , Masyarakat menjuluki nya Syafa Gendeng , tapi kalo ketahuan Kyai Rukyat , maka Kyai Rukyat melarang julukan tersebut , karena Kyai Rukyat sudah mengetahui perihal haliyah dari Musyafa santri nya yang juga karyawan nya itu , dan Kyai Rukyat begitu menyayanginya ,yang memang sebelum nyantri di Kauman adalah murid Mbah Waliyullah Makruf Kedunglo Kediri ,sampai Ahirnya nyatalah karomah karomah dari Mbah Musyafa , diantaranya Air minum satu Teko diminum tamu rasa nya bisa berbeda beda ,ada yg merasakan manis,ada yang tawar,bahkan ada yang asin ,

Mbah Syafa juga kerap kali menunaikan Haji , meski Usahanya tak beraturan hasilnya pun tak mencukupi untuk biaya haji  ,
banyak sekali karomahnya .

Kyai Rukyat itu tidak punya keturunan, suatu saat di usianya yang makin senja dan belum juga dikaruniai keturunan, Kekhawatiran akan ketiadaan penerus perjuangannya, lebih-lebih tiadanya anak-cucu yang akan mendoakannya saat meninggalkan dunia nanti, Kyai Syarbini mengetahui kesedihan Sahabat nya itu, Dengan segenap keyakinan akan kebaikan karibnya -yang senantiasa berjuang tak kenal lelah demi umat- itu, Kyai Syarbini menenangkan nya :

Kyai Rukyat...Sabar, janganlah bersedih.! Anakmu adalah seluruh santri dan masyarakat Kaliwungu. Merekalah yang akan mendoakanmu saat engkau wafat kelak"

Dan nyata nya hingga saat ini Haul Kyai Rukyat selalu dikunjungi Ribuan Masyarakat dan santri dari berbagai penjuru Indonesia



KH.Ahmad Rukyat Bin Kyai Abdullah Wiryodikromo terlahir pada 1885 M, wafat pada hari jum'at ba'da sholat maghrib tanggal rabiul akhir 1388 H atau bertepatan 04 juli 1968 M

Sedangkan Waliyullah Mbah Musyafa wafat setahun setelah Kyai Rukyat wafat , yaitu pada Tahun 1969 M

Seorang Kyai Kaliwungu menuangkan kerinduan, setelah Ditinggalkan oleh Syaikhoni tersebut dan menuangkan nya dalam Syair yang indah :

يا صاح لا تكف عن عين جرت # دموعها بوفاة فحـــل كليــوني

“Wahai kawan, jangan kau tahan mata yang mengalir air matanya tersebab wafatnya semulia-mulianya orang Kaliwungu.”

اوقاته قــــــــد اشبعت بمنــــافع # مــــن بين تعليم و ورد مدمن

“Waktu beliau dipenuhi dengan hal-hal yang bermanfaat, antara mengajar dan wirid yang membuat ketagihan.”

يهــــــــتم للمتعلمين بمــــا نقل # من عالم ورع له قـــــــدر ســـني

“Amat penting bagi santri apa yang dinukil oleh seorang alim wira'i, disana terdapat derajat yang luhur.”

أخذ المعارف من مشايخ قريته # عبـــد الكريم مع ابنه ذي الشان
و من الولي برموي وعمه # ذي الزهد في دار الفنا عرفان

“Kyai Ru'yat menimba ilmu pengetahuan dari Masyayikh kampungnya (Kaliwungu), yakni yang mulia Kyai Abdul Karim, serta anaknya (Kyai Ahmad).
Dan dari seorang Wali yang bernama Barmawi, juga pamannya yang Zahid dengan dunia, yakni Kyai Irfan.”

هو من تلاميذ الفقيه البارع # ادريس من مسكنه جمسارين

“Beliau termasuk salah satu murid dari al Faqih al Bari' Kyai Idris yang tinggal di Jemsaren.”

ذا الشيخ رؤية ابن عـــــبد الله # من لم يزل ذكر المنون الداني

“Inilah Syeikh Ru'yat bin Abdillah, seorang yang tiada lekang mengingat Sang Maha Pemberi Yang Maha dekat.”

في اليلة الجمـــعة بعد المغرب # تاسع ربيع الثـان ذي الإحسان
الفـــــــا توفــــــــين مع ثلاث # مـــــــــائة ثمانين ثمــــان عـــــــين

“Di malam Jum’at selepas maghrib, beliau wafat, tepatnya pada tanggal 9 Rabiuts Tsany 1388 H. yang memiliki kebaikan.

ياربنااعف عنه وارحم يا رحيم # واقمه في الأخرى فسيح جنان

Ya Allah, ampuni dan sayangi beliau, Wahai Sang Maha Penyayang. Dan tempatkan beliau di akhirat di Surga yang luas.”

وكذاك اهل والأقارب ذو انتما # سلــــــــــم على نبينا العدناني

Sampaikan salam kepada Nabi kami al Adnany, juga teruntuk keluarga, dan kerabat yang memiliki keterkaitan.”

Qosidah ini di Anggit Oleh KH Abu Khoir .
Axact

Alfadllu.com

Media silaturahim yang menjernihkan dan mencerdaskan, dengan informasi yang menginspirasi.

Post A Comment:

0 comments: