Santri ngajio..yen gak ngaji yo mulango najan muride gak akeh.

KH Imam Kholil ~ Sarang,Rembang


di kisahkan nasihat tersebut di atas oleh Mbah Yai Zaini Truko,Tlahap,Kendal  Santri Sarang Spt diketahui bahwa Mbah Imam ini dulu tempat Syaikhina Abah Dimyati Rois menempa diri menuntut ilmu dimana di Sarang Juga Syaikhina Abah mengaji pada Mbah Ber (Syeikh Zubair Dahlan ,Ahli Fiqh zaman itu)
Sedikit Kisah Tentang Al Alamah Simbah Imam Kholil Sarang
Pada Saat mbah Zaini nderekke Ziaroh ke Sunan Bonang di Tuban Jatim, di maqbarohnya, Mbah Imam di suguhi layak nya tamu ,makbaroh itu layaknya persinggahan dan disana bisa bertemu dan berbincang2 dg Shohibul maqom (Sunan Bonang)
Mbah Imam ini Mashur ke Walian nya setelah wafat .
mengenai ngaji , berinteraksi dengan kitab kuning dg mutholaah atau mengajarkan nya atau mengikuti pengajian nya memang merupakan pertalian yang penting jangan sekali sekali meninggalkan nya sama sekali
karena kitab kuning mempunyai karomah dari implementasi karomahnya Mu'allif atau pengarang nya yang sarana untuk mendekati makna Alhadits dan Alquran sbg warisan dari Rosulillahi saw .
Santri ketika lepas kitab kuning apalagi zaman skrg terlalu terfokus dg HP dan internet tak sempat lagi mutholaah kitab kuning maka akan mudah goyah pendirian dan terseret pada pemahaman di internet yg tak jelas alur sanad dan tujuan nya .
pada saat spt itu kembali lah kita mengingat dan mengamalkan nasihat dari Kyai Imam ,utk mutholaah dan ngaji ,bukalah kitab kuning resapi maka akan dirasa karomah dr kitab itu ,
santri saja goyah ,apalagi yg tidak pernah mengenyam kitab kuning .

bagaimana kitab kuning mempunyai karomah ,misalkan saja kitab matan Jurmiyaah , hanya kitab kecil ,tapi oleh pengarang nya kitab itu setelah ditulis dibuang ke laut ,tdk langsung di share ke publik , wal hasil setelah berhari hari berbulan bulan , kitab jurmiyah yang dibuang ke laut tidak rusak tidak hancur ,barulah kitab tersebut di wulangkan dan bertahan sampai sekarang menjadi kitab yg sangat penting di dunia Pesantren ,
maka dari itu apalagi sekelas santri yang gak mateng dipondok jangan lepas kan kitab kuning , ngaji lah terus meski seminggu sekali
diceritakan oleh Syaikhina Abah bahwa KH Zubair dahlan itu senantiasa ngaji Kitab Fathul wahhab , mudawamah, artinya tiap hari ngaji hingga berbulan bulan hatam, di ulangi lagi dari awal terus menerus sampai ahir hayat nya ,padahal sudah al 'alim 'allaamah tapi justru tidak mau lepas dari kitab kuning ,
diceritakan pula bahwa Syaikhina Abah Dimyati Rois sejak pertama mendirikan Pondok Alfadlu ketika mutholaah kitab itu malam hari baru berhenti setelah adzan subuh dan itu berjalan tiap malam .

maka dari itu santri jangan tinggalkan ngaji kitab kuning karena

KITAB KUNING PUSAKA SANTRI

dan akan menjadikan pribadi yang kokoh tak mudah terpengaruh oleh faham faham sesat di samping takk bisa di beli oleh rupiah ,pribadi tangguh hanya pada Allah lah berserah

Tentang Kisah Ikan Bandeng
   Ini cerita mutawatir, banyak orang yang meriwayatkannya. Oleh karena itu, kesahihannya tidak diragukan lagi, dan saya telah mengonfirkasi saksi utamanya, yakni yang punya cerita: KH Zubaduz Zaman, atau Gus Bad dari Kediri

Almagfurlah simbah Kiai Imam Kholil, pengsauh Pesantren MIS, Sarang-Rembang, Jawa Tengah, pernah memerintahkan santrinya untuk membuka tutup air tambak miliknya.

Tambak tersebut berisi ribuan ikan Bandeng siap panen harus dibuka, agar Bandeng keluar ke sungai. Ide Kiai Imam itu muncul karena saat itu sedang masa paceklik ikan, bahasa setempatnya "terak". Pada masa itu, para nelayan sangat kesusahan mendapat ikan.

"Cung, mbrolen galengane, iwake ben metu" perintah Kiai Imam pada santrinya. Artinya, "Kang, buka saja pematangnya, biar ikan keluar semua. Setengah tidak percaya, tapi santri itu tidak berani nolak juga. Dia jawab, "Sendiko, Kyai."

Tak lama, si santri membuka pematang yang membendung air tambak pelan-pelan. Sambil menunggu Mbah Imam tidak kelihatan karena masuk ke ndalem. Ketika diperkirakan Mbah Imam sudah tidak kelihatan lagi, si santri segera menutup kembali galengan tersebut.

Tapi tiba-tiba Mbah Imam muncul di belakangnya dan mbentak, "Hei Cung, ojo ditutup neh. Dibuka wae, iwake ben golek konco!" "Hei, Kang, jangan ditutup lagi. Dibuka aja. Ikannya biar cari teman!" Si santri akhirnya tidak berani melanggar perintah lagi.

Setelah itu, banyak orang kampung cari ikan di sungai dan dapt ikan banyak.

Sumber dari Guru guru kami

Ali Nahdhodin
Axact

Alfadllu.com

Media silaturahim yang menjernihkan dan mencerdaskan, dengan informasi yang menginspirasi.

Post A Comment:

0 comments: