Lembaga Pendidikan Ma’arif NU berulang tahun yang ke 88. Dimulai
kelahirannya pada tanggal 19 September 1929. Tema hari ulang tahun kali ini adalah: "
LP Ma'arif NU Membentuk Generasi Bangsa yang Berkarakter, Mandiri dan Inovatif".
Peringatan ini dimaksudkan agar kita senantiasa mengingat khittah didirikannya LP
Ma'arif NU dan ke arah mana organisasi ini akan menuju.
Sebagaimana diketahui, kelahiran LP Ma’arif NU dimaksudkan untuk melakukan
inovasi pendidikan di lingkungan NU yang semula belum mengenal pendidikan dengan sistem kelas, berkembang ke arah sistem pendidikan yang mengenal kelas.

Adalah tiga orang yang mengawali pendirian Ma’arif NU tersebut pada tahun 1929, yakni K.H. A Wahid Hasyim, K.H. Mahfudz Shiddiq dan KH. Abdullah Ubaid atas permohonan KH.
Wahab Hasbullah kepada Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’arie.
Sedemikian pentingnya lembaga pendidikan dalam organisasi NU ini,
Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’arie pernah berpidato dalam khutbah iftitahnya pada pembukaan Muktamar Purwokerto pada 26-29 Maret 1946 dengan menyampaikan: “Kita
harus memusatkan segala perhatian untuk mendidik orang-orang kita, dan melatih anak-anak kita hingga cakap bagi kehidupan di masa yang akan datang di dalam segala
lapangannya, politik, militer, sipil, industri dan ekonomi serta lainnya. Itu semua harus kita jalankan dengan tenang, tidak gaduh dan tentram”.

Dalam pada itu, KH. Ahmad Wahid Hasyim, dalam usia 15 tahun, telah memulai
pembaruan pendidikan dengan mendirikan Madrasah Nidzamiyah, yang memadukan pola pengajaran pesantren yang menitikberatkan pada ajaran agama dengan pelajaran ilmu
umum.
Sistem klasikal diubah menjadi sistem tutorial. Di lembaga pendidikan ini, selain
mengajarkan bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Belanda pun diajarkan.

Pendirian lembaga pendidikan formal yang dilakukan oleh KH. A. Wahid Hasyim ini diikuti oleh banyak pengurus NU di pelbagai tempat, mulai dari tingkat wilayah hingga cabang dan
ranting.
Dalam perkembangannya, sejak tahun 1935, Ma’arif NU telah merintis lembaga
yang bersifat kejuruan (madrasah Ikhtishashiyyah), selain lembaga pendidikan yang bersifat umum. Lembaga pendidikan kejuruannya tersebut meliputi bidang hukum
(Qudlat), perdagangan (tijaroh), pertukangan (nijaroh), pertanian (ziro’ah), sekolah
khusus fakir-miskin (fuqoro) dan kejuruan khusus. Dengan demikian, apa yang sekarang dikembangkan oleh pemerintahan Presiden Jokowi Widodo dengan pendidikan vokasional
yang bersifat kejuruan untuk menjawab pasar tenaga kerja dan situasi perekonomian global, hal tersebut sudah jauh lebih dahulu dikembangkan oleh LP Ma’arif NU dengan
mengembangkan sekolah-sekolah kejuruan tersebut.


Perkembangan saat ini, jumlah satuan pendidikan di lingkungan Ma’arif NU
sebanyak 21. 280 yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia yang terdiri dari SD/MI,
SMP/MTs dan SMA/MA/SMK". Dengan jumlah tersebut, Ma’arif NU menetapkan visi dan misi lembaga sebagai “Pusat Pengembangan Pendidikan yang Mandiri, Berkualitas,
Profesional, dan Kompetitif dalam Bingkai Paham Islam Ahlussunnah Waljama’ah”.
Dengan visi dan misi tersebut, sekolah dan madrasah dalam lingkungan LP Ma’arif
NU diharapkan mampu mencetak peserta didik yang memiliki kemandirian berfikir
maupun bersikap, dan terutama kemandirian ekonomi. Kemandirian tersebut bertumpu
pada kemampuan bersaing dengan berpijak pada kuatnya kualitas sumber daya manusia yang mempunyai kemampuan bekerja secara professional. Nilai lebih yang
dikembangkan oleh lembaga-lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU adalah menanamkan dan memperkuat kesalehan pribadi dan kesalehan sosial dalam
bingkai Islam moderat dan jalan tengah (washatiyah) yang berasas aqidah ahlussunnah
wal-jama’ah.
Mengapa kita perlu memperkuat Islam moderat dan Islam jalan tengah
(washatiyah) yang berasas aqidahahlussunnah wal-jama’ah pada masa-masa sekarang ini?
Karena sekarang ini banyak lembaga pendidikan di Indonesia, mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi yang mampu mencetak peserta didik dengan mutu tinggi,
tetapi mereka tidak toleran terhadap perbedaan, merasa pahamnya paling benar
sendiri, cenderung berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan sesama umat
Islam dan sesama saudara sebangsa, serta tidak menanamkan cinta pada tanah airnya.
Kehadiran lembaga-lembaga pendidikan LP Ma’arif NU adalah untuk mencetak peserta
didik yang mempunyai daya saing yang kompetitif, tetapi pada saat yang bersamaan,
mereka mencintai dan merawat tanah airnya, bersikap toleran dan bijaksana, patuh
pada aturan-aturan negara, terutama Pancasila dan UUD 45, serta menjunjung tinggi
nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika.



Sumber :
http://www.maarif-nu.or.id/Warta/tabid/156/ID/13307/PIDATO-HARLAH-LP-MAARIF-NU-KE-88.aspx
Axact

Alfadllu.com

Media silaturahim yang menjernihkan dan mencerdaskan, dengan informasi yang menginspirasi.

Post A Comment:

0 comments: